Identifikasi Anak dengan
Potensi CI dan BI
Identifikasi Anak dengan
Potensi CI dan BI
Pengertian
Anak dengan Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa (CI-BI)
Istilah
potensi kecerdasan dan bakat istimewa (CI-BI) berkait erat dengan latar
belakang teoritis yang digunakan. ‘Potensi kecerdasan’ berhubungan dengan
kemampuan intelektual, sedangkan bakat
tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual, namun juga
beberapa jenis kemampuan lainnya seperti yang disebut oleh Gardner dengan
teorinya yang dikenal Multiple
Intelligences (1983) yaitu, kecerdasan linguistik, kecerdasan
musikal, kecerdasan spasial, kecerdasan logikal matematikal, kecerdasan
kinestetik, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan interpersonal.
Pengertian
potensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam program percepatan belajar ini
dibatasi hanya pada ‘kemampuan intelektual umum saja’. Ada dua acuan yang bisa
digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual umum yaitu acuan unidimensional,
yang lebih dikenal sebagai batasan yang diberikan oleh Lewis Terman (1992) dan
acuan multimensional, yang disampaikan oleh Renzulli, Reis, dan Smith (1978)
dengan Konsepsi Tiga Cincin (The
Three Ring Conception).
Untuk
pendekatan unidimensional, kriteria yang digunakan hanya semata-mata skor IQ
saja. Secara operasional batasan kemampuan intelektual umum yang digunakan
adalah “mereka yang mempunyai skor IQ 140 skala Wechsler. Sedangkan untuk
pendekatan multidimensional, kriteria yang digunakan lebih dari satu. Dalam hal
ini, batasan yang digunakan adalah “mereka yang memiliki dimensi kemampuan umum
pada taraf cerdas ditetapkan skor IQ 125 ke atas skala Wechsler, dimensi
kreativitas cukup (ditetapkan skor creativity
quotient/CQ dalam nilai baku cukup) dan pengikatan diri terhadap
tugas baik (ditetapkan skor task
commitment/TC dalam kategori nilai baku baik).
Ciri-ciri
Keberbakatan
Sejak
program percepatan belajar dirintis oleh tiga sekolah swasta pada tahun ajaran
1998/1999, hingga saat ini konsepsi keberbakatan yang digunakan berasal dari
Renzulli, Reis, dan Smith (1978) yang menyebutkan bahwa keberbakatan menunjuk
pada adanya keterkaitan antara tiga kelompok ciri (kluster) yaitu kemampuan
umum, kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) di
atas rata-rata.
Dengan
menggunakan konsepsi keterbakatan dari Renzulli, Reis, dan Smith (1978) dan disesuaikan
dengan kondisi yang ingin dikembangkan oleh pihak sekolah maka definisi pserta
didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam Program
Percepatan Belajar adalah: “Mereka
yang oleh psikolog dan/atau guru diidentifikasi sebagai siswa yang telah
mencapai prestasi memuaskan, dan memiliki kemampuan intelektual umum yang
berfungsi pada taraf cerdas, kreativitas yang memadai, dan keterikatan terhadap
tugas yang tergolong baik”.
Untuk
mendapatkan siswa yang tergolong berbakat seperti yang disebutkan dalam
definisi di atas, berikut disampaikan 14 ciri-ciri keberbakatan yang telah
memiliki korelasi yang signifikan dengan tiga aspek tersebut (Balitbang
Depdikbud, 1986):
1. Lancar
berbahasa (mampu mengutarakan pemikirannya);
2. Memiliki
rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan;
3. Memiliki
kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis;
4. Mampu
belajar/bekerja secara mandiri;
5. Ulet
menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa);
6. Mempunyai
tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya;
7. Cermat
atau teliti dalam mengamati;
8. Memiliki
kemampuan memikirkan beberapa macam pamecahan masalah;
9. Mempunyai
minat luas;
10.
Mempunyai daya imajinasi yang tinggi;
11.
Belajar dengan mudah dan cepat;
12.
Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat;
13.
Mampu berkonsentrasi; dan
14.
Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.
Melihat
ciri-ciri di atas, terkesan seakan-akan siswa yang memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimewa hanya memiliki sifat-sifat yang positif. Sebetulnya tidak
demikian. Sebagaimana anak pada umumnya, anak yang memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimewa mempunyai kebutuhan pokok akan pengertian, penghargaan, dan
perwujudan diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, mereka
akan menderita kecemasan dan keragu-raguan. Jika minat, tujuan, dan cara laku
mereka yang berbeda dengan siswa pada umumnya, tidak memperoleh pengakuan, maka
mereka walaupun memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa akan mengalami
kesulitan. Hal ini nyata dari daftar yang disusun oleh Seogoe (dikutip oleh
Martinson, 1974) yang menunjukkan bahwa ciri-ciri tertentu dari siswa yang
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dapat atau mungkin mengakibatkan
timbulnya masalah-masalah tertentu, misalnya:
1. Kemampuan
berpikir kritis dapat mengarah ke arah sikap meragukan (skeptis), baik terhadap
diri sendiri maupun terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain;
2. Kemampuan
kreatif dan minat untuk melakukan hal-hal yang baru, bisa menyebabkan mereka
tidak menyukai atau lekas bosan terhadap tugas-tugas rutin;
3. Perilaku
yang ulet dan terarah pada tujuan, dapat menjurus ke keinginan untuk memaksakan
atau mempertahankan pendapatnya;
4. Kepekaan
yang tinggi, dapat membuat mereka menjadi mudah tersinggung atau peka terhadap
kritik;
5. Semangat,
kesiagaan mental, dan inisiatifnya yang tinggi, dapat membuat kurang sabar dan
kurang tenggang rasa jika tidak ada kegiatan atau jika kurang tampak kemajuan
dalam kegiatan yang sedang berlangsung;
6. Dengan
kemampuan dan minatnya yang beraneka ragam, mereka membutuhkan keluwesan serta
dukungan untuk dapat menjajaki dan mengembangkan minatnya;
7. Keinginan
mereka untuk mandiri dalam untuk mandiri dalam belajar dan bekerja, serta
kebutuhannya akan kebebasan, dapat menimbulkan konflik karena tidak mudah
menyesuaikan diri atau tunduk terhadap tekanan dari orang tua, sekolah, atau
teman-temannya. Ia juga bisa merasa ditolak atau kurang dimengerti oleh
lingkungannya;
8. Sikap
acuh tak acuh dan malas, dapat timbul karena pengajaran yang diberikan di
sekolah kurang mengundang tantangan baginya.
Selain
itu, berdasarkan penilitian Herry (1993), mereka juga suka mengganggu
teman-teman sekitarnya. Hal ini disebabkan karena mereka lebih cepat memahami
materi pelajaran yang diterangkan guru di depan kelas dibandingkan
teman-temannya. Dengan diterangkan sekali saja, mereka telah dapat menangkap
maksudnya, sedangkan siswa yang lain masih perlu dijelaskan lagi; mereka banyak
waktu terluang, yang kemudian apabila kurang diantisipasi oleh gurunya, akan
digunakan untuk mengadakan aktivitas sekehendaknya (usil), misalnya mencubit
atau melemparkan benda-benda kecil/kapur keteman-teman sekitarnya.
Akibat
lebih lanjut, mereka dapat menjadi anak yang berprestasi di bawah
potensinya (underachiever) atau
bahkan malah mungkin menjadi anak yang bermasalah (mengalami kesulitan
belajar). Hal ini nyata dari hasil penelitian Herry, dkk.,(1996) terhadap siswa
SD di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat, yang
menunjukkan bahwa 22% dari siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa beresiko tinggal kelas (nilai rata-rata rapornya kurang dari 6,00).
Demikian pula hasil penelitian Herry, dkk., (1997) terhadap siswa SLTP diempat
provinsi yang sama menunjukkan bahwa 20% dari siswa SLTP yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa juga beresiko tinggal kelas. Sementara itu, hasil
penelitian Yaumil (1990) di Jakarta terhadap siswa SMA menunjukkan bahwa
sekitar 30% dari siswa SMA yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa
breprestasi di bawah potensinya.
Keadaan
di atas tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara lain.
Beberapa penelitian di negara maju, seperti Amerika Serikat menunjukkan bahwa
sekitar 25% dari siswa yang putus sekolah adalah anak yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa (Utami Munandar, 1992). Selain itu, Marland
(1971) juga mengemukakan bahwa labih dari separuh anak yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa berprestasi di bawah potensinya disebabkan karena
tidak mendapat program pendidikan yang sesuai.
Masalah-masalah
di atas dapat terjadi karena mereka belum mendapat pelayanan pendidikan yang
memadai secara tidak disadari. Apabila teman-teman sekelas mereka memiliki
tingkat kemampuan dan kecerdasan yang relatif sama (homogen), hal di atas tidak
akan terjadi.
Untuk
menghindari sifat-sifat yang kurang baik ini, kita hendaknya berusaha
memberikan kepuasan rohaniah untuk dapat dimanfaatkan, yaitu melalui pelayanan
pendidikan yang berdiferensiasi (Ward, 1980), yaitu pemberian pengalaman
pendidikan yang disesuaikan dengan bakat, minat, kemampuan, dan kecerdasan
siswa, agar mereka dapat memanifestasikan potensinya yang masih latent, yakni
sebagaimana ciri-ciri mereka seperti yang telah dikemukakan di atas.
Anak
cerdas (brigth/higt achiever)
berbeda dengan dengan anak CI-BI (gifted)
dan anak-anak cerdas tidak bisa dimaksukkan ke dalam kelompok gifted karena
mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Sekalipun mereka juga memiliki
tingkat intelegensi yang tinggi, namun kemampuan mereka dalam analisis,
abstraksi dan kreativitas tidak seluar biasa anak-anak CI-BI. Berbagai
perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
CERDAS(Bright/High Achiever)
|
CERDAS/BERBAKAT ISTIMEWA(Gifted – Talented)
|
|
· Menjawab
pertanyaan dengan benar
· Berminat dengan
sesuatu
·
Menunjukkan perhatian
· Punya gagasan yang
bagus, populer
· Bekerja keras
untuk sukses ujian
· Menjawab soal
sesuai dengan yang ditanyakan
· Di puncak daftar
siswa berprestasi
· Suka linearitas
· Pemerhati yang
baik
· Mendengarkan
penuh dengan minar
· 6-8 kali
pengulangan untuk menguasai materi
· Memahami gagasan
orang lain dengan baik
· Senang berteman
dengan teman sebaya
· Menarik
kesimpulan
· Menyelesaikan
tugas yang diberikan
· Pintar menyalin,
meniru
· Suka sekolah
|
|
(Sumber:
CGIS-Net Assessment systems, 2008)
Perbedaan
Antara Anak Berbakat, Cerdas, dan Pintar
Setiap
orang tua pasti selalu membanggakan anak-anaknya. Setiap anak memang unik.
Mereka dilahirkan dengan membawa potensi dan bakat yang berbeda-beda. Anak
berbakat?
Sungguh
beruntung orang tua yang dikaruniainya. Sayangnya, sebagian besar orang tua
masih belum memahami bahwa buah hatinya adalah anak berbakat. Selama ini,
pemahaman masyarakat atas istilah berbakat, cerdas, dan pintar masih tumpang
tindih. Padahal, ketiga istilah itu berbeda.
Anak
disebut berbakat jika sejak kecil sudah memiliki komitmen yang besar dengan
bidang yang disukainya. Tak hanya itu, anak yang berbakat pun akan
terus-menerus mengembangkan kemampuan yang dimilikinya itu. (kemampuannya
melampaui di atas rata-rata).
Tak
hanya itu, anak yang berbakat juga memiliki kemampuan intelegensi yang jauh di
atas rata-rata. Anak yang unik ini juga dikarunia komitmen yang besar dan
kreatif dalam bidang yang disukainya. Sehingga, bidang itu bisa dikembangkannya
untuk menjadi lebih besar lagi (Misalnya ada anak yang senang olahraga. Kalau
anak itu berbakat, maka ia akan terus mencari bahan tentang olahraga yang
disukainya. Dengan begitu, si anak akan tahu tokoh, hasil pertandingan, hingga
teknik-teknik olahraga tersebut. ”Anak berbakat itu akan all out.”)
Begitu
juga dengan anak yang suka dengan matematika. Anak berbakat akan terlihat lain.
Anak berbakat akan punya komitmen untuk mempelajari matematika hingga mampu
menciptakan rumus-rumus baru. Orang yang berbakat main piano dan yang tidak
berbakat akan lain saat memainkan tuts piano.
Bagaimana
dengan anak cerdas? Disebut cerdas karena memiliki taraf inteligensi yang
tinggi. Namun, anak cerdas ini belum tentu memiliki komitmen yang besar dan
belum tentu mampu berkreativitas. Sementara, istilah anak pandai, adalah istilah
yang diberikan masyarakat luas untuk menunjukkan bahwa seorang anak punya
ranking tinggi di kelasnya.
Pandai – Cerdas
Anak
pandai, belum tentu berbakat dan belum tentu cerdas. Berdasarkan hasil
penelitian seorang mahasiswa Psikologi UI, dari 250 anak sekolah dasar (SD)
yang selalu meraih ranking satu sampai 10 di sekolahnya, ternyata yang
terkategori cerdas hanya 20 persen. Malah, 20 persen lainnya kecerdasannya di
bawah rata-rata.
Mengapa
anak yang tidak cerdas mendapat ranking? Hal itu tentu sangat mungkin terjadi.
Sebab, pelajaran di SD terbilang masih mudah. Selain itu, kontrol yang
diberikan orang tua juga terus-menerus. Sehingga, tiap hari orang tua mendrill
anaknya untuk belajar. Tapi, begitu si anak masuk SMP dan SMA jadi drop, karena
mereka harus belajar mandiri.
Namun,
yang perlu diingat adalah mendidik anak berbakat adalah tugas yang mulia.
Sebab, mereka adalah aset bangsa di masa depan. Bila orang tua menemukan
anaknya seperti itu, maka sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog tentang cara
membesarkan anak-anak yang berbakat itu. Orang tua juga harus rajin membaca
buku agar bisa mengimbangi rasa ingin tahu anaknya yang besar.
Berbakat – Pintar
Anak
berbakat berbeda dengan anak pintar. Bakat berarti punya potensi. Sedangkan
pintar bisa didapat dari tekun mempelajari sesuatu.
Tapi meski tekun namun tak berpotensi, seseorang tak akan bisa optimal seperti halnya anak berbakat. Kalau anak tak berbakat musikal, misalnya. Biar dikursuskan musik sehebat apa pun, ya, kemampuannya sebegitu-begitu saja. Tak akan berkembang. Sebaliknya, jika anak berbakat tapi lingkungannya tak menunjang, ia pun tak akan berkembang. Soal bakat musik tadi, misalnya. Jika di rumah tak ada alat-alat musik, bakatnya akan terpendam.
Tapi meski tekun namun tak berpotensi, seseorang tak akan bisa optimal seperti halnya anak berbakat. Kalau anak tak berbakat musikal, misalnya. Biar dikursuskan musik sehebat apa pun, ya, kemampuannya sebegitu-begitu saja. Tak akan berkembang. Sebaliknya, jika anak berbakat tapi lingkungannya tak menunjang, ia pun tak akan berkembang. Soal bakat musik tadi, misalnya. Jika di rumah tak ada alat-alat musik, bakatnya akan terpendam.
Bakat
anak, berkaitan dengan kerja belahan otak kiri dan kanan. Belahan otak kanan
berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, intuisi. Sedangkan belahan yang kiri
untuk kecerdasan. Nah, anak berbakat umumnya menunjukkan IQ di atas rata-rata,
yaitu minimal 130. Namun tak berarti anak dengan IQ rata-rata, yaitu 90-110,
tak akan berbakat.
Prevalensi
Siswa dengan Kecerdasan dan Bakat Istimewa
Seperti
diharapkan mengenai perbedaan yang ada dalam cara anak-anak diidentifikasi
memiliki kecerdasan dan baka istimewa, terdapat perbedaan yang mencolok dalam
jumlah anak yang diketahui. Sekolah yang sangat mengandalkan pada nilai IQ
untuk mengidentifikasi siswa mendapat nilai 125 atau 130 sebagai jalan pintas
untuk persyaratan program berbakat. Hal ini cenderung menghasilkan 2-3% orang
dari jumlah yang memenuhi syarat (Webb, Meckstroth dan Tolan, 1982). Pendekatan
ini mencerminkan persepsi yang jelas eksklusif mengenai sifat-sifat
keberbakatan dan jumlah orang yang akan dilayani.
Opini
berbeda mengenai sifat keberbakatan dan jumlah orang yang dilayani dikemukakan oleh
Renzulli dan Reis. Mereka percaya, siswa yang memiliki keberbakatan harus
berjumlah 15% sampai 20% dari populasi siswa (Renzulli dan Reis, 1991). Namun,
menurut Reis, semakin kecil siswa semakin dekat terhadap realitas jumlah
sebenarnya yang masuk sebagai berbakat. Reis melaporkan bahwa 4,5% populasi
siswa di Amerika Serikat menerima layanan ini (Reis, 1989).
Di
Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 2,2% anak usia sekolah memiliki
kualifikasi CI-BI. Menurut data BPS tahun 2006 terdapat 52.989.800 anak usia
sekolah. Artinya terdapat sekitar 1.059.796 anak CI-BI di Indonesia.
Berdasarkan data Asossiasi CI-BI tahun 2008/2009, jumlah siswa CI-BI yang sudah
terlayani di sekolah akselerasi masih sangat kecil, yaitu 9.551 orang yang
berarti baru 0,9% siswa CI-BI yang terlayani. Ditinjau dari segi kelembagaan,
dari 260.471 sekolah, baru 311 sekolah yang memiliki program layanan bagi anak
CI-BI. Itupun baru terbatas program yang berbentuk akselerasi. Sedangkan di
madrasah, dari 42.756 madrasah, baru ada 7 madrasah yang menyelenggarakan
program akselerasi. Ini berarti masih sangat rendah sekali jumlah
sekolah/madrasah yang memberikan layanan pendidikan kepada siswa CI-BI, serta
keterbatasan dari ragam pelayanan.
Meskipun
definisi dan jumlah orang yang diidentifikasi berbakat berbeda, semua guru
mempunyai anak yang memiliki kecerdasan dan berbakat istimewa di kelas, yang
perlu dikenali dan dibimbing. Baik siswa itu secara resmi diketahui sebagai
berbakat ajau tidak, mereka layak mendapat pendidikan yang tepat bagi kemampuan
dan kebutuhannya. Inilah tanggungjawab semua guru untuk mengenali dan bekerja
secara efektif mengembangkan keberbakatan semua siswa.
Identifikasi
Siswa dengan Kecerdasan dan Bakat Istimewa
Sejak
kapan orang tua mulai bisa mengenali buah hatinya tergolong anak berbakat?
Berdasarkan penelitian, orang tua mulai bisa melihat anaknya berbakat atau
tidak pada saat masuk taman kanak-kanak (TK). Orang tua, bisa melihat dari
kecenderungan-kecenderungan anak yang muncul setiap hari. Anak berbakat ditandai
dengan kritis, banyak tanya, agak susah diatur, punya rasa ingin tahu yang
besar dan memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi (Utami Munandar, 1992).
Misalnya
saja, anak yang berbakat tak cuma ingin main ke mal, namun juga mereka memiliki
keinginan untuk mengunjungi museum dan berbagai tempat lainnya. Orang tua yang
mengerti, sering kali menganggap anak berbakat ini cukup merepotkan. Memang hal
itu ada benarnya. Sebab, belum tentu orang tua bisa memenuhi kebutuhan anak
tersebut baik secara pengetahuan maupun finansial.
Anggapan
orang bahwa IQ menetap seumur hidup? Hal itu sama sekali tidak benar. Ada, anak
yang sebelumnya ber-IQ di bawah rata-rata, tapi dengan stimulasi dan pendekatan
yang baik bisa berubah jadi di atas rata-rata. Tapi IQ bukan satu-satunya yang
menentukan seorang anak disebut berbakat atau tidak. Masih ada faktor lain
lagi, yaitu CQ atau kreativitas, yang juga harus di atas rata-rata, minimal
250. Selain itu, ia juga harus memiliki task
commitment, yakni kemampuan pengikatan diri terhadap tugas atau
motivasi. Jadi, ada keinginan dan ketekunan untuk menyelesaikan sesuatu (Utami
Munandar, 1992).
Untuk
mendeteksi apakah seorang anak berbakat atau tidak, bisa dilihat dari
perkembangan motoriknya. Anak berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat
dibanding anak biasa. Apakah dalam berbicara, berjalan, maupun membaca.
Misalnya, umur 9 bulan sudah bisa jalan (normalnya, usia 12,5 bulan).
Selain
itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna.
Untuk kemampuan membaca, kadang anak berbakat memperolehnya dari belajar
sendiri. Yaitu dari mengamati dan menghubung-hubungkan, misalnya dari
memperhatikan lalu-lintas, teve, atau buku. Anak berbakat juga senang
bereksplorasi atau menjajaki. Jadi, kalau ia mempreteli barang-barang, bukan
karena dia nakal tapi karena rasa ingin tahunya.
Soal
rasa ingin tahu yang tinggi ini, memang pada umumnya dimiliki anak kecil.
Hanya, pada anak berbakat, cara mengamatinya lebih kental dibanding anak-anak
biasa. Hal lain yang menjadi karakteristik anak berbakat ialah bicaranya bisa
sangat serius. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga. Kadang ia tak
puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha mencari
jawaban-jawaban lain.
Di
sekolah secara diagramatis, keterkaitan antara prestasi dengan kecerdasan dan
keberbakatan istimewa dapat dilukiskan sebagai berikut:
Diagram
1: Hubungan Prestasi dengan Kecerdasandan Keberbakatan Istimewa (CI-BI)
Prestasi
Rendah (-)
|
Prestasi
Tinggi (+)
|
|
Segmen
4:Berbakat (berkemampuan dan berkecerdasan istimewa)sertaBerprestasi Rendah
(Underachiver)
|
Segmen
1:Berbakat (berkemampuan dan berkecerdasan istimewa)sertaBerprestasi Tinggi
|
Berbakat
(+)
|
Segmen
3:Berprestasi RendahTanpamemiliki keberbakatan istimewa
|
Segmen
2:Berprestasi TinggiTanpamemiliki keberbakatan istimewa
|
Tidak
Berbakat (-)
|
Dengan
melihat diagram di atas, sebenarnya proses pengidentifikasian siswa CI-BI
diarahkan pada kegiatan pengukuran untuk mendapatkan siswa yang berada pada
segmen 1 serta segmen 4. Proses identifikasi juga diarahkan pada pencermatan
indikator-indikator acuan multidimensional, yang disampaikan oleh Renzulli,
Reis, dan Smith (1986) dengan Konsepsi Tiga Cincin (The Three Ring Conception), yaitu 1) kecerdasan
(kemampuan di atas rata-rata, 2) kreativitas, dan 3) pengikatan diri terhadap
tugas (task commitment),
yang sementara ini dianggap merupakan indikator yang paling dapat
dipertanggung-jawabkan dari kecerdasan dan bakat istimewa.
Task
Commitment
|
Creativity
|
Above
Average Ability
|
Gambar
1: The Three Ring Conception (Renzulli,
1986)
Oleh
karena itu, identifikasi siswa CI-BI dilaksanakan melalui tahapan-tahapan
sebagai berikut:
1. Penjaringan
Tujuan
penjaringan untuk menentukan dalam waktu yang relatif singkat dan biaya
seringan mungkin, siswa dari seluruh populasi di sekolah yang memenuhi syarat
diduga termasuk kelompok CI-BI untuk diikutsertakan dalam seleksi. Pada tahap
ini dapat dilakukan berbagai cara:
·
Dilaksanakan tes kelompok (tes intelegensi)
·
Hasil prestasi siswa (melihat nilai raport)
·
Meminta informasi dari; guru, orang tua, dan teman sebaya
Alternatif
1:
Menjaring
siswa CI-BI dapat dilakukan dengan tes kelompom (tes intelegensi), suatu tes
untuk mengukur intelegensi siswa yang diberikan secara berkelompok atau massal.
Bentuk
tes yang digunakan sesuai dengan tingkatan sekolah.
1. TK
digunakan tes Coloured Progressive Matric (Raven) atau TIKI D
2. SD
digunakan tes Coloured Progressive Matric (Raven)
3. SMP
digunakan Figure Reasioning Test
4. SMA
digunakan Standard Progressive Matric (Raven)
Keuntungan
alternatif 1:
1. Dapat
mengukur intelegensi seluruh siswa dalam waktu singkat
2. Biaya
relatif murah
Kerugian
alternatif 1:
1. Hasilnya
kurang akurat (masih agak kasar)
2. Tidak
dapat dikerjakan oleh sembarang orang (harus dikerjakan oleh tenaga ahli
pengukuran/psikolog
Alternatif
2:
Penjaringan
siswa dengan cara berpedoman pada prestasi belajar siswa, dilakukan dengan cara
melihat nilai raport siswa atau dari tes prestasi belajar baku.
Keuntungan
alternatif 2:
1. biaya
murah,
2. dapat
dilakukan oleh guru
Kerugian
alternatif 2:
1. mutu
sekolah berbeda, sulit untuk membandingkan nilai dari satu sekolah dengan
sekolah lain karena bobotnya yang berbeda.
2. siswa
pada segmen 4 tidak terjaring, sementara siswa pada segmen 2 ikut terjaring
Alternatif
3:
Penjaringan
siswa dengan cara meminta informasi kepada guru, orang tua, dan teman sebaya.
Sumber
informasi dari guru
Keuntungan:
1. Cepat
dan biaya murah,
2. Informasi
penting dari guru tentang siswa CI-BI dapat diperoleh
3. Tidak
membutuhkan waktu lama.
Kerugian
:
1. Kurang
onjektif, sebab anak yang disayangi guru cenderung mendapat nilai baik
dibanding siswa pandai tapi nakal,
2. Sulit
untuk membuat skala penilaian yang mewakili siswa CI-BI,
3. Tidak
jelas segmen yang akan dijaring,
4. Sebagian
guru kurang memahami ciri-ciri siswa CI-BI
Sumber
informasi dari orang tua:
Orang
tua dapat memberikan informasi perilaku anak di lingkungan keluarganya.
Keuntungan:
1. Biaya
murah,
2. Informasi
dari orang tua sangat penting
3. Tidak
membutuhkan waktu lama.
4. Mudah
dilaksanakan.
Kerugian:
1. Kurang
onjektif, sebab subjektivitas orang tua sengat mempengaruhi penilaian siswa
CI-BI.
2. Terbatasnya
ingatan orangtua terhadap perkembangan anaknya,
3. Siswa
CI-BI biasanya lahir dari orangtua berbakat, sehingga keistimewaan anak CI-BI
di rumah dianggap biasa/wajar.
4. Tidak
jelas segmen mana yang akan terjaring.
Sumber
informasi dari teman sebaya:
Keuntungan:
1. Banyak
siswa lebih dekat dengan temannya, sehingga informasi yang diberikan dapat
membantu dalam menentukan penilaian siswa CI-BI,
2. Biaya
murah,
3. Mudah
dilaksanakan.
Kerugian:
1. Objektivitas
informasi tidak dapat dipertanggung jawabkan,
2. Sulit
membuat skala penilaian,
3. Belum
tentu siswa CI-BI memiliki teman dekat yang dapat memberikan informasi
bermanfaat bagi penilaian,
4. Tidak
jelas segmen mana yang akan terjaring,
5. Diragukan
kemampuan siswa dalam menilai temannya (penilaian teman sejawat).
Melihat
kemungkinan-kemungkinan alternatif penjaringan di atas, alternatif pertama
merupakan pilihan paling ideal, karena proses penjaringan langsung diarahkan
pada segmen 1 dan 4 yang memang merupakan target dari pelayanan yang akan
diberikan. Namun menyadari bahwa belum di seluruh daerah di Indonesia ini
tersedia tenaga psikolog, maka alternatif kedua yang lebih mungkin dipilih. Hal
ini didasarkan pada pertimbangan prktis dan ekonomis. Dengn alternatif kedua,
akan terjaring siswa yang berprestasi akademik tinggi, yang diperkirakan
memiliki kecerdasan, kreativitas, dan task
commitment yang tinggi, tapi jangan salah dengan alternatif
kedua ini akan terjaring siswa yang biasa-biasa saja tetapi memiliki prestasi
akademik tinggi. Hal ini berarti proses penjaringan langsung diarahkan pada
segmen 1 dan 2.
2. Penyaringan
Setelah
dilakukan penjaringan, selanjutnya dilakukan penyaringan (seleksi) untuk
menentukan siswa CI-BI. Dibandingkan dengan prosedur yang dilakukan pada tahap
penjaringan maka tahap penyaringan lebih membutuhkan keterlibatan tenaga ahli,
mengingat yang hendak diassesmen adalah potensi anak.
Adapun
pengukuran yang dilakukan pada tahap penyaringan ini meliputi:
1. Pengukuran
kecerdasan
1) Pada kelompok TK menggunakan Wechsler Intelegence Scale for
Children (WISC)
2) Pada kelompok SD dan SMP digunakan Tes Intelegensi Anak
(TIA) atau Tes Intelegensi Kolektif Indonesia tingkat Dasar (TIKI D).
3) Pada kelompok SMP dan SMA digunakan Tes Intelegensi
Kolektif Indonesia tingkat Menengah (TIKI M).
1. Pengukuran
kreativitas
1) Pada kelompok
TK dan SD digunakan Tes Kreativitas Figural (TKF)
2) Pada kelompok
SMP dan SMA digunakan Tes Kreativitas Verbal (TKV).
1. Pengukuran task commitment (pengikatan
diri terhadap tugas)
Untuk
semua tingkat sekolah digunakan skala penilaian pengikatan diri terhadap tugas
dalam komposisi yang berbeda untuk tiap tingkat pendidikan.
Kedua
tahapan identifikasi di atas, merupakan proses yang berkesinambungan, pada
tahap penjaringan akan didapatkan siswa yang memiliki prestasi akademik tinggi,
yang diperkirakan akan memiliki kemungkinan lebih besar juga memiliki
kecerdasan, kreativitas, dan task
commitment yang tinggi pula. Kemudian melalui tahapan
penyaringan akan dapat ditentukan dengan lebih tepat siswa yang memiliki
kecerdasan dan bakat istimewa (CI-BI) yang akan mendapatkan pelayanan
pendidikan khusus seperti yang diamanatkan dalam Undang-undang nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN).
Program
Pendidikan bagi Siswa dengan Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa
Di
negara-negara maju, terdapat berbagai jenis program pendidikan untuk siswa yang
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (Gets dan Dillon, dalam Hallahan
dan Kaufman, 1982), antara lain :
1.
Sekolah musim panas di negeri dengan empat musim,
2.
Pendidikan dasar tidak berjenjang,
3.
Diterima lebih awal di perguruan tinggi,
4.
Pelajaran-pelajaran perguruan tinggi bagi para siswa setingkat
sekolah menengah,
5.
Mata-mata pelajaran di sekolah menengah dan kreditnya diakui di
perguruan tinggi,
6.
Kelas-kelas khusus untuk mata pelajaran tertentu yang ada dalam
kurikulum,
7.
Kelas-kelas khusus pada semua mata pelajaran yang ada dalam
kurikulum,
8.
Seminar-seminar hari Sabtu,
9.
Pengelompokan berdasar kemampuan,
10.
Pengayaan di kelas-kelas biasa,
11.
Guru tamu,
12.
Penambahan mata pelajaran,
13.
Tugas-tugas kelompok dan tugas ekstrakurikuler,
14.
Wisata karya,
15.
Pelajaran-pelajaran khusus melalui televisi,
16. Program
pelajaran biasa setengah hari, dan program pengayaan setengah hari lainnya,
17.
Percepatan,
18.
Sekolah-sekolah khusus,
19.
Program konsultasi,
20.
Bimbingan/tutorial,
21.
Belajar mandiri,
22.
Pertukaran pelajar,
23.
Peningkatan yang luwes (misalnya anak SD mengambil pelajaran di
SMP, dsb.),
24.
Penempatan siswa pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi,
25.
Program pemberian penghargaan,
26. Program
kegiatan yang ditawarkan lembaga non-sekolah, seperti museum, perpustakaan, dan
27.
Kurikulum khusus.
Program
pendidikan khusus bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan istimewa dapat
berupa:
1. Program
Pengayaan (Enrichment),
Program
pengayaan,yaitu pemberian pelayanan pendidikan sesuai potensi kecerdasan dan
bakat istimewa yang dimiliki siswa, dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas
belajar tambahan yang bersifat perluasan/pendalaman, setelah yang bersangkutan
menyelesaikan tugas-tugas yang diprogramkan untuk siswa lainnya. Program ini
cocok untuk siswa yang bertipe “enriched
learner”.
2. Program
Percepatan (Acceleration),
Program
percepatan,yaitu pemberian pelayanan pendidikan sesuai potensi kecerdasan dan
bakat istimewa yang dimiliki oleh siswa, dengan memberi kesempatan kepada
mereka untuk dapat menyelesaikan program reguler dalam jangka waktu yang lebih
singkat dibanding teman-temannya. Program ini cocok bagi siswa yang bertipe “accelerated learner”.
Kebutuhan
Pendidikan Khusus Siswa dengan Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa
Penyelenggaraan
pendidikan khusus bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa dapat dilakukan dalam bentuk:
·
Kelas inklusi; siswa yang memiliki potensi kecerdasan istimewa
dalam proses pembelajaran bergabung dengan siswa program reguler
·
Kelas khusus; siswa yang memiliki potensi kecerdasan istimewa
dalam proses pembelajaran berada di kelas terpisah
·
Satuan pendidikan khusus; dalam satuan pendidikan tersebut semua
siswa yang memiliki potensi kecerdasan istimewa.
·
Satuan pendidikan inklusi; dalam
satuan pendidikan tersebut terdiri dari kelas reguler dan kelas program khusus.
Mayoritas
anak-anak yang berbakat menghabiskan jam sekolahnya di kelas-kelas umum. Bahkan
ketika terlibat sekalipun dalam program-program khusus, pada umumnya pengajaran
mereka dilakukan di kelas-kelas umum. Suatu penelitian jenis layanan khusus
yang paling umum diberikan kepada siswa di tempat kelas umum. Layanan-layanan
pembelajaran tersebut menurut Cox, Daniel dan Boston (1985) adalah:
·
Kelas khusus paruh waktu (part
time special class).
·
Belajar mandiri (independent
study).
·
Ruang sumber (resource
room), dan
·
Guru bantu (iternerant) atau
guru pembimbing khusus (consulting
teacher).
Meskipun
penting bagi tiap alternatif dalam memberikan bantuan khusus dan kesempatan
untuk siswa berbakat, faktanya tetap bagi siswa yang ikut serta dalam
alternatif ini, pada umumnya pendidikannya masih berupa produk pengalaman
mereka di kelas umum. Tidak ada yang lebih penting dibanding guru-guru kelas
umum yang mengerti kebutuhan-kebutuhan mereka dan mau mengajar mereka dengan
cara yang kreatif. Sebagaimana pendidikan untuk semua siswa, pendidikan siswa
berkemampuan unggul dan berbakat khusus tentu saja merupakan tanggimgjawab dan
hak seluruh komunitas sekolah.
1. Ranah
Keberbakatan
Clark
(1988) telah menjelaskan lima ranah sifat siswa-siswa yang memiliki
keberbakatan. Ranah-ranah tersebut meliputi: kognitif, afektif, fisik, intuitif
dan sosial.
1. Ranah
kognitif.
Ranah
kognitif meliputi sejenis kemampuan tinggi yang dijelaskan terdahulu dalam
konsep Renzulli mengenai keberbakatan. Siswa yang berbakat adalah pembelajar
yang cepat dan pengingat informasi yang unggul. Mereka dapat juga dengan cepat
melihat hubungan antara sesuatu yang mereka pelajari dalam konteks yang
berbeda. Kognitif meliputi juga komitmen dan motivasi seperti yang diterangkan
Renzulli sebagai komitmen tinggi pada tugas (high task commitment).
1. Ranah
afektif.
Ranah
afektif, menurut Clark, adalah suatu kecenderungan terhadap kedalaman emosional
dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Termasuk juga dalam ranah ini
adalah kecenderungan terhadap tingkat-tingkat penilaian moral yang tinggi.
1. Ranah
fisik.
Clark
meneliti siswa yang berbakat menunjukkan suatu perbedaan yang tidak lazim
antara perfcembangan fisik dan intelektual. Mereka juga menunjukkan toleransi
yang rendah terhadap perbedaan antara standar mereka sendiri dengan
ketidakmampuan fisik untuk memenuhi standar ini.
1. Ranah
intuitif.
Ranah
intuitif berhubungan dengan kemampuan kreativitas. Lagi-lagi sama dengan defmisi
Renzulli, Clark berpendapat bahwa siswa yang berbakat dapat menunjukkan
kapasitas kreatif yang luar biasa dalam bidang usaha kreatif
1. Ranah
sosial.
Pada
ranah sosial, siswa yang berbakat menunjukkan keinginan yang kuat untuk
memenuhi potensi-potensi pribadi mereka, sementara ia juga membuat kontribusi
sosial yang positif. Mereka dapat menggunakan kemampuan intelektual tinggi
terhadap solusi masalah-masalah lingkungan budaya mereka.
2. Interaksi
Faktor-faktor Keberbakatan
David
Feldman telah melakukan penelitian longitudinal dan ekstensif pada 6 sampel
anak yang dianggap “prodigie”
(Feldman, 1980, 1986). Sebagai hasil dari penelitian kualitatifnya, Feldman
menjelaskan keberbakatan adalah suatu hasil interaksi faktor-faktor, sebagian
adalah intrinsik bagi individu (suatu kemampuan turunan), sedangkan yang lain
yaitu hasil dari pengaruh lingkungan. Menurut Feldman, bidang-bidang yang
ditelitinya:
·
Memiliki kemampuan luar biasa.
·
Ketika lahir kemampuan ini diketahui, dinilai, dan membantu
perkembangan kemampuan tersebut.
·
Menerima pengajaran dari guru terbaik yang memiliki pengetahuan
yang sangat luar biasa atas suatu ranah dan sejarahnya, dan menanamkan
pengetahuan itu dengan menggunakan minat dan komitmen untuk belajar; dan
·
Menunjukkan dorongan dari dalam (inner-dirrectedness] yang kuat dan komitmen yang
kuat pada bidang mereka. Mereka mendapatkan rasa gembira yang besar atas
prestasi mereka (Morelock dan Feldman, 1991).
3. Kuat
namun Rentan
Kekuatan
yang dahsyat yang dimiliki siswa berbakat dapat menjadi lemah dalam interaksi
mereka dengan guru dan siswa lain. Hal ini berlaku jika kekuatan ini tidak
disalurkan dengan cara yang tepat. Beberapa atribut positif yang telah dicatat
yang mungkin menjadi sifat siswa-siswa tersebut adalah:
·
Kecenderungan untuk menguasai diskusi kelas.
·
Ketidaksabaran menunggu mata pelajaran atau tugas berikutnya.
·
Resisten terhadap prosedur perintah, aturan, dan standar.
·
Kecenderungan memulai mata pelajaran pada diskusi kelas.
·
Kemungkinan menjadi bosan dengan pengulangan.
·
Seringkali mengubah perhatian dan ketertarikan.
·
Kecenderungan memaksa mengetahui dengan logika sebelum tugas dan
aktivitas didapat (Heward dan Orlansky, 1992, hlm. 461).
4. Pilihan
Pendidikan: Penempatan Ulang (Replacement) dan
Bahan Ajar Tambahan (Supplementary)
Pilihan-pilihan
pendidikan disediakan bagi siswa-siswa yang berbakat khusus dan berkemampuan
unggul telah dikategorikan dengan pilihan replacement atau supplementary. Pilihan replacementbagi
siswa berbakat ditawarkan sebagai pengganti aktivitas sekolah umum.
Pilihan supplementary adalah
program atau aktivitas untuk siswa ini disediakan di luar program sekolah umum.
Pilihan replacement meliputi:
·
Penambahan atau percepatan aktivitas di kelas umum.
·
Kelas khusus paruh waktu (part-time
special classes).
·
Kelas khusus penuh (full-time
special classes).
·
Sekolah khusus penuh (full-time
special schools).
· Sekolah
berasrama khusus (special
residential schools).
Pilihan supplementary meliputi
·
Pencangkokan kegiatan ekstra kurikuler (concurrent enrollment) di
sekolah menengah dan college.
·
Kelas lanjutan (advanced
classes) diberikan selama periode waktu non-sekolah oleh
college/universitas atau lembaga-lembaga masyarakat.
·
Magang dan program tutorial (internships and monitoring programs) (Milgram
dan Goldring, 1991).
Schwartz
telah mencatat program pendidikan yang paling tepat bagi individu yang berbakat
dapat memuat beberapa kombinasi pilihan replacement dan supplementary. Siswa
yang berbakat memerlukan segi-segi pembelajaran berikut: tingkat pembelajaran
yang tepat bagi siswa ini, tingkat kesulitan yang tepat, materi yang diberikan
kepada siswa untuk dipelajari, jumlah dan kualitas materi yang sedang
dipelajari, serta peningkatan pengarahan diri (self-direction)dalam diri siswa (Schwartz, 1994, hlm.
83). Tentu, ini merupakan pertimbangan-pertimbangan yang penting dalam mendidik
semua siswa.
Cara
Membantu Siswa Berpotensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa Agar Berhasil di Kelas
Inklusif
Snow
(1992), seorang pengajar pendidikan inklusif, telah membuat penelitian berikut
mengenai konsep keberbakatan:
Budaya
inklusi dimulai dalam penegasan, seluruh manusia adalah berbakat. Pernyataan
ini kedengarannya aneh bagi banyak orang, sebab tradisi dunia kita memberikan
kata sifat gifted hanya untuk beberapa orang terpilih yang memiliki bakat dan
kemampuan, biasanya dengan keadaan ‘yang sangat’. Budaya inklusi memandang
makna berbakat sangat berbeda. Kita menegaskan bahwa berbakat sebenarnya
merupakan sifat bawaan manusia yang biasa, hal yang fundamental bagi kemampuan
kita menjadi warga masyarakat. Berbakat apapun kita, apapun yang dilakukan,
apapun yang kita punya, memberikan jalan bagi kita untuk menciptakan kesempatan
bagi diri kita dan orang lain untuk berinteraksi dan melakukan sesuatu bersama
– interaksi yang sangat berarti antara, paling tidak, dua orang (Snow, 1992,
hlm. 109).
1. Debat: Inklusif atau Ekslusif?
Perdebatan
mengenai apakah pendidikan inklusif atau ekslusif bagi siswa berbakat telah
melibatkan sejumlah persoalan. Kritikan terhadap pendidikan terpisah bagi siswa
tersebut memuat beberapa poin berikut:
·
Suatu sifat yang esensial sekolah inklusif adalah rasa
kemasyarakatan (sense
of community). Rasa ini dikacaukan ketika siswa ditarik dari
pelayanan khusus.
·
Pesan yang mengatakan, “Jika Anda berbeda, Anda harus angkat
kaki” dapat menantang rasa aman (sense
of secure) siswa berada di kelas.
·
Karena beberapa anak dipilih untuk program berbakat, dapat
menciptakan suasana keterasingan dan ketidakpercayaan di antara siswa.
·
Karena siswa mendapat program berbakat dapat menciptakan
kekacauan arus jam kegiatan kelas dan dapat membuat kesulitan yang lebih besar
bagi guru untuk menciptakan rasa kesetiakawanan (sense of cohesweness) di
dalam kelas.
·
Mengambil anak-anak dari kelas umum untuk memenuhi kebutuhannya
sebagai siswa berbakat dapat mengurangi rasa kompetensi (sense of competence) guru
dalam memberi pengajaran pada kelompok yang berbeda. Guru melihat dirinya
sebagai kurang tanggungjawab bagi pendidikan semua anak di kelas (Sapon-Shevin,
1995).
Sapon-Shevin
menjelaskan, komunitas sekolah inklusif sebagaimana adanya di mana seluruh
siswa merasa memiliki, tak seorang pun dikeluarkan atas dasar sifat-sifat
tertentu. Dalam komunitas ini, guru mengakui dan menerima perbedaan individual
siswa mereka. Di lingkungan jenis ini, keterbukaan di antara siswa dan guru mengenai
keunggulan, kelemahan, kemampuan, dan kebutuhan menjadi sebuah pondasi
kepercayaa.n dan rasa memiliki (sense
of belongingness). Suatu rasa interkoneksitas (sense of
interconnectedness) tercapai bila seluruh individu sejenis di
komunitas sekolah ini bekerjasama, membagi sumber daya, menolong yang
membutuhkan, dan berkomunikasi mengenai kebutuhan mereka secara terbuka
(Sapon-Shevin, 1994).
Kritikan-kritikan
inklusif mengenai pendidikan siswa yang berbakat telah melahirkan
argumen-argumen betapa pentingnya program pemisahan yang dirancang untuk
memenuhi kebutuhan siswa-siswa ini:
·
Program khusus bagi siswa berbakat telah dibentuk karena
kebutuhan mereka tidak terpenuhi di kelas umum.
·
Keadaan kelas seperti kelas standar, kurangnya pelatihan guru,
dan kebutuhan untuk bersaing pada guru membuat sulit bagi guru untuk
mengadaptasi pengajaran bagi siswa yang berbakat.
·
Penelitian membuktikan, guru yang lebih memungkinkan membuat
perubahan metoda pengajaran untuk pembelajar yang biasa, bukan pembelajar yang
pintar.
·
Meskipun banyak diskusi dalam mencapai keadilan dan keunggulan
di kelas, pembelajaran yang berada pada risiko tinggi terus menjadi prioritas
yang lebih tinggi ketimbang pembelajar yang pintar dalam akses bagi layanan
pendidikan yang mereka peroleh.
·
Hasil-hasil program inklusi jauh dari persetujuan yang positif
(Tomlinson, 1995 dalam J. David Smith, 2006).
2. Integritas dan Pelayanan Pendidikan Anak
Berbakat
Meskipun
siswa-siswa dengan keberbakatan tidak termasuk dalam proteksi dari Individual
with Disabilities Education Act (IDEA), jelas mereka sungguh mempunyai
kebutuhan pendidikan khusus. Ini pun masuk akal untuk menerapkan dasar IDEA
bagi kebutuhan mereka.
Jaminan
bahwa para siswa akan diberi pengajaran dalam setting integrasi tak
terbatas (most integrating
settings) yang akan memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.
Suatu susunan penempatan pendidikan yang komplit serta layanan akan disediakan
bagi siswa yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi jaminan yang sama. Sebagian
siswa perlu layanan pendidikan yang mengharuskan mereka meninggalkan kelas umum
suatu saat dalam karier mereka. Tujuan yang paling penting bagi siswa ini,
memenuhi kebutuhan mereka di lingkungan sekolah inklusif. Alasan utama dari
tujuan ini adalah sama seperti yang telah dibahas sebelumnya mengenai siswa
penyandang hambatan.
3. Guru Kelas Berada di Titik Pusat
Guru
kelas umum merupakan tokoh sentral dalam pendidikan semua anak. Inilah orang
yang bertanggungjawab secara esensial yang dapat menangani kebutuhan dan sifat
berbeda semua siswa. Guru lain mungkin berfungsi sebagai konsultan, anggota tim
pengajar, dan personil sumber daya, namun biasanya guru kelas yang harus
melakukan koordinasi mengenai usaha-usaha ini. Usaha-usaha guru kelas tidak
hanya meningkatkan keberhasilan tiap siswa, namun juga meningkatkan kemampuan
diri siswa dan sensitivitas yang mereka butuhkan sebagai anggota masyarakat
heterogen.
4. Siswa Berbakat, Guru Berbakat
Haruskah
seorang guru menjadi berbakat untuk mengajar secara efektif siswa berbakat?
Apakah seorang guru harus memiliki otak yang lebih cerdas dan lebih kreatif
dibanding seluruh siswanya? Jika jawabannya ya, lalu guru harus berada pada
posisi defensif untuk menjaga unjuk kecerdasan oleh murid-murid. Pengajaran
adalah suatu perjuangan yang tak ada hentinya untuk mempertahankan sikap
superior dalam segala hal yang berhubungan dengan siswa. Untungnya, jauh dari
kenyataan mengenai pengajaran siswa yang berbakat pada khususnya. Siswa yang
memiliki keberbakatan, seperti halnya siswa lain, ketika ditanya untuk
menjelaskan guru unggul, akan selalu menjawab dengan tiga deskripsi:
·
Seorang guru yang hebat adalah orang yang menyukai mengajar
(menyukai pekerjaannya rnenjadi seorang guru).
·
Seorang guru yang hebat adalah orang yang menyukai apa yang
mereka ajarkan (suka berbagi pengetahuan).
·
Seorang guru yang hebat mencintai siapa yang mereka ajari (penuh
perhatian kepada siswa).
Komentar
yang diperoleh dengan menanyai siswa mengenai guru yang buruk biasanya adalah
mereka yang tidak memiliki tiga sifat tersebut.
Dalam
bukunya, Hard Time, Charles
Dicken menciptakan suatu lingkungan sekolah dan seorang pendidik yang tidak
memiliki kualitas ini. Tokoh dalam buku itu, Thomas Gradgrin, mengajar di suatu
kelas dengan cara datar, kosong, dan monoton. Dan filosofi pendidikannya jelas
dari paragraf pertama novel itu.
Kini,
yang saya inginkan adalah, fakta. Jangan ajarkan anak-anak ini kecuali
fakta-fakta sendiri yang diinginkan dalam kehidupan. Jangan ditanamkan apapun,
dan cabut semuanya. Anda hanya dapat membentuk pikiran hewan terhadap fakta:
tak ada lagi yang lain yang dapat diajarkan pada mereka. Inilah prinsip di mana
saya membesarkan anak saya sendiri, dan inilah prinsip di mana saya membesarkan
anak-anak ini tetaplah pada fakta, Tuan. (Dickens, 1868, dalam J. David Smith,
2006).
Sebaliknya
terhadap pandangan pendidikan ini, dan peranan pendidik merupakan suatu respon
tulisan Albert Einstein yang diminta oleh National Council of Supervisors of
Elementary Science yang menggambarkan persepsinya atas peranan guru:
Hal
penting yang harus dilakukan seorang guru, bukanlah sekadar memberikan
informasi dan ilmu pengetahuan. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana
siswa dapat menghargai nilai yang ada dalam setiap ilmu pengetahuan, apakah itu
science, pendidikan moral, atau pendidikan seni. Proses pentransferan ilmu
pengetahuan yang tidak diiringi kecintaan terhadap ilmu itu sendiri merupakan
sesuatu yang berbahaya. Hal ini dapat diilustrasikan bahwa jika seseorang tidak
menyukai satu jenis makanan, bagaimana mungkin ia dapat memakan makanan
tersebut. Sehingga jika minat dan kecintaan siswa terhadap ilmu pengetahuan
telah ditumbuhkan, maka kesuksesan yang diraih melampaui pencapaian akademik
belaka. (Einstein, 1934, dalam J. David Smith, 2006).
5. Meningkatkan Pertumbuhan Menangani Siswa
Berbakat
Beberapa
sifat yang membantu guru agar bekerja lebih efektif dengan siswa berbakat
seperti:
1. Keterbukaan
intelektual
2. Menikmati
suasana belajar dan belajar dari orang lain.
3. Merasa
tentram mengenai siswa yang mengetahui lebih banyak pelajaran daripada guru.
4. Kemampuan
membiarkan siswa mempelajari topik yang bukan merupakan bagian kurikulum yang
direncanakan.
5. Keinginan
untuk member siswa mendapat kemajuan sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Kualitas
yang paling penting dari guru unggul adalah pengabdian yang tulus terhadap
pertumbuhan tiap siswa. Karena untuk semua anak-anak, siswa berbakat
membutuhkan perhatian dan pengertian dari guru-guru mereka. Siswa berbakat
kemungkinan menghadapi masalah di kehidupan sekolah mereka seperti halnya siswa
penyandang hambatan menghadapi kesulitan. Masalahnya mungkin berbeda, namun
membutuhkan dorongan dan nasihat yang sama. Parke (1989) memberikan empat
petunjuk yang dapat membantu guru dalam memenuhi kebutuhan siswa-siswa
tersebut:
1. Terima
setiap siswa sebagai seseorang yang memiliki kemampuan berbeda.
Di
setiap kelas akan ada berbagai tingkat kemampuan siswa. Guru yang mengakui hal
ini memberikan sumbangan yang besar kepada siswa berbakat. Program-program
belajar bagi siswa ini harus dimuat ke dalam konteks prograrn bagi seluruh
siswa yang tepat.
2.
Menciptakan Pembelajaran Berbasis Siswa.
Kebutuhan
siswa harus mengarah pada proses pembuatan keputusan kelas. Siswa dapat dan
harus dilibatkan sebagai anggota tim pada proses tersebut. Beri mereka kekuatan
untuk menjadi anggota yang bertanggungjawab dalam pendidikannya sendiri.
3.
Merancang model-model pengajaran yang menghargai sumbangan yang
khas dari tiap siswa.
Gunakan
metoda-metoda pengajaran yang memberi ruang bagi setiap siswa untuk turut serta
dalam proses pendidikan pada tingkat kemampuannya. Berbagai metoda pembelajaran
memberikan berbagai tingkat kemampuan di dalam kelas tanpa menunjuk siapa yang
belajar dengan cepat dan lambat. Pendekatan ini memberi siswa untuk belajar
menurut gaya mereka sendiri serta pada kemampuan maksimal mereka.
4. Ingatlah,
“siswa berbakat bukan yang ‘lebih baik’; mereka hanya ‘berbeda’ dalam
kemampuan, kebutuhan, dan minat.”.
Berhentilah
membuat penilaian-penilaian kemampuan siswa. Hindari menempatkan siswa sebagai
contoh yang harus ditiru oleh murid lain. Ada siswa-siswa dengan kebutuhan dan
kesulitan mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih-sayang yang sama
sebagaimana siswa lain di kelas. Meskipun mereka mempunyai kebutuhan-kebutuhan
berbeda, kebutuhan mereka tidak sedikit lebih penting disbanding kebutuhan-kebutuhan
siswa lain (Parke, 1989, dalam J. David Smith, 2006).
6. Perbedaan dalam Kelas
Perbedaan
dalam kurikulum kelas merupakan suatu strategi penting meningkatkan
keberhasilan siswa yang berbakat. Perbedaan perlu disebabkan oleh tiga sifat penting
siswa-siswa tersebut:
1. Mereka
seringkali memiliki kepentingan yang berbeda dari siswa lainnya.
2. Mereka
seringkali memiliki kemampuan mempelajari pelajaran baru lebih cepat dibanding
siswa lain.
3. Mereka
seringkali memiliki kemampuan dan belajar lebih banyak dalam pelajaran yang
mereka pelajari (Piirto, 1994 dalam J. David Smith, 2006).
Perbedaan
yang diperlukan dalam memberi pengajaran bagi siswa dengan kategori
keberbakatan harus dilakukan dalam beberapa cara:
1. Perbedaan
Minat (Differentiation as a
Function of Interest): Siswa yang berbakat mungkin tertarik
dalam abstraksi, konsep, dan topik-topik yang mendasari daripada hanya sekadar
keterangan faktual mengenai satu mata pelajaran. Mereka harus diberi kesempatan
dan didorong untuk menggali kepentingan ini.
2. Perbedaan
dalam Rentang Belajar (Differentiation
in Rate of Learning): Banyak siswa berbakat yang belajar
dengan amat cepat, hafal keterangan mata pelajaran faktual. Siswa ini harus
diizinkan maju sesuai dengan kecepatan belajarnya. Siswa ini tidak perlu banyak
waktu mengulang dan latihan untuk mendapatkan keterangan dasar.
3. Perbedaan
dalam Kedalaman (Differentiation
in Depth):Dikarenakan fakta-fakta mata pelajaran dasar dihapal amat
cepat oleh siswa yang berbakat, mereka dapat didorong menggali topik lebih
dalam lagi.
4. Perbedaan
Kemandirian Berpikir dan Bimbingan Belajar(Differentiation
Through Independent and Guided Study): Perbedaan yang jelas
ini dapat dicapai, paling tidak sebagian, dengan memberikan kepada siswa
berbakat untuk menggali lebih dalam ketertarikan mereka dengan kemampuan mereka
melalui belajar mandiri, yaitu dibimbing oleh guru dan/atau konselor kelas.
Hasil belajar mandiri siswa mungkin juga menghasilkan pengalaman pembelajaran
lebih kaya bagi siswa lainnya melalui saling berbagi penemuan (Piirto, 1994
dalam J. David Smith, 2006).
Jenis
perbedaan yang baru saja dijelaskan dapat terjadi di kelas yang berpusat pada
siswa (student-centered
classroom). Beberapa ciri student-centered classroom sebagai berikut:
1. Tiap
siswa adalah partner dalam pembuatan keputusan kurikulum. Setiap siswa
diperbolehkan ikut serta dalam aktivitas yang terencana dan dapat mengambil
pilihan untuk mengembangkan kemampuannya.
2. Pembelajaran
kelompok individu, kelompok kecil, dan seluruh kelompok dipermudah. Guru dapat
berpindah-pindah dari kelompok satu ke kelompok lainnya, untuk tugas individu,
dan aktivitas kelompok seluruhnya sepanjang hari.
3. Diharapkan
ada tingkat aktivitas dan keributan yang beralasan. Siswa yang terlibat dalam
proses pembelajaran itu diharapkan aktif setiap saat.
4. Perencanaan
individual dibuat dan dilakukan oleh semua siswa. Rencana-rencana itu (sama
dengan IEP) berdasarkan pada kemampuan, prestasi dan kepentingan siswa.
Penting
juga digarisbawahi, guru harus dipersiapkan dan didukung usaha-usahanya ketika
membuat perbedaan kurikulum bagi keuntungan siswa berbakat. Stereotipe kelas
sebagai suatu tempat di mana seorang guru memenuhi seluruh kebutuhan kelas
siswa dengan sendirinya harus diubah. Tim pembelajaran, kolaborasi, dan
konsultasi harus menjadi sesuatu yang biasa di kelas. Sekolah harus dipandang
sebagai tempat di mana siswa bekerjasama dan ikut serta dengan aktif dalam
proses pembelajaran orang lain. Kelas harus dilihat sebagai tempat kerjasama
ketimbang arena persaingan bagi semua orang (Sapon-Shevin, 1995 dalam J. David
Smith, 2006).
7. Siswa Perempuan dan Keberbakatan
Meskipun
ada perubahan yang dramatis dalam sikap sosial terhadap pendidikan perempuan di
Amerika selama abad ke-20, masih ada masalah persamaan gender yang harus
diatasi. Salah satunya adalah bidang keberbakatan. Bentuk yang lebih halus
mengenai filosofi pendidikan yang diungkapkan oleh Rousseau pada abad ke-18
mungkin masih dipengaruhi sikap-sikap terhadap perempuan dan pendidikan yang
unggul. Dalam karya klasik bidang pendidikan, Rousseau mengungkapkan cita-cita
pendidikan perempuan:
Lembaga
anak-anak yang baik biasa bergantung pada ibunya. Pendidikan pertama seorang
laki-laki bergantung pada perawatan ibunya. Moral laki-laki, hasrat mereka,
perasaan mereka, kesenangan mereka, kebahagiaan mereka juga bergantung pada
perempuan. Sehingga pendidikan perempuan yang menyeluruh harus berhubungan
dengan laki-laki. Untuk menyenangkan laki-laki, untuk memanfaatkan mereka,
untuk membuat dirinya dicintai dan dihargai oleh mereka, untuk membesarkan
mereka ketika anak-anak, untuk merawat mereka ketika tumbuh, untuk menasihati
mereka, untuk membuat hidup mereka menyenangkan dan manis itu semua adalah
tugas perempuan seluruh waktu, dan mereka harus diberi pengajaran sejak masa
kanak-kanak (Rousseau, 1979, dalam J. David Smith, 2006).
Perempuan
tidak diwakili dalam populasi keberbakatan pada tingkat yang diharapkan.
Hallahan (1991) telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat menyumbangkan
kepada ketidakterwakilan ini. Hal ini meliputi harapan-harapan orangtua yang
lebih rendah dibanding kepada anak laki-laki. Dampak dari stereotipe
sifat-sifat laki-laki dan perempuan serta peranannya, biasa dalam
praktik-praktik pendidikan, dan peningkatan ketergantungan daripada kemandirian
di antara perempuan. Silverman (1986a) telah berpendapat, bila perempuan
memiliki kesempatan untuk mengembangkan kepercayaan diri, nilai, dan harapan
yang dapat mendorong tingkat pencapaian setinggi laki-laki, mereka akan
mendapat tingkat keunggulan yang sama. Silverman (1986b, 1988) juga memberikan
saran-saran untuk memberikan kesempatan pendidikan yang lebih besar bagi
perempuan berbakat. Dia menyarankan:
1. Milikilah
harapan yang tinggi bagi pencapaian pendidikan perempuan.
2. Percaya
pada kemampuan logis dan matematis perempuan.
3. Berikan
pria dan perempuan dengan model peranan perempuan yang positif.
4. Rekrut
perempuan secara aktif dalam penempatan posisi yang tinggi dalam bidang
matematika dan ilmu pengetahuan.
5. Dorong
tingkat ketertarikan dan bakat yang lebih luas bagi perempuan.
6. Berilah
perhatian yang lebih besar dalam penggunaan bahasa non-seksis (bias gender)
dalam mata pelajaran, komunikasi kelas, dan bahasa secara umum.
7. Berikan
dukungan kelompok-kelompok perempuan.
8. Dorong
kemandirian yang lebih besar pada perempuan.
9. Anak
Penyandang Cacat tetapi Berbakat (Disabilities
& Giftedness)
Anak-anak
yang miliki hambatan (disabilities) sekaligus
berbakat (gifted) berada
pada risiko tinggi untuk tidak dikenali bakat-bakatnya. Seorang siswa yang
memiliki hambatan pendengaran (hearing
disabilities) mendapat kesulitan dalam mengkomunikasikan
kemampuan yang sebenarnya. Hal ini berlaku bagi siswa yang memiliki hambatan
penglihatan (visual
impairment) atau anak dengan kelainan otak (celebral palsy). Siswa
berkesulitan belajar (learning
disabilities) mungkin mengalami kesulitan dalam menunjukkan
kemampuan yang sesungguhnya disebabkan kesulitan dalam menulis dan membaca.
Whitmore dan Maker (1985) telah memperkirakan terdapat lebih dari 150.000 siswa
yang memiliki hambatan sekaligus bakat istimewa. Bersamaan dengan kebutuhan
pengakuan yang lebih tinggi bagi perempuan, siswa minoritas, dan siswa dengan
keadaan sosial ekonomi tidak menguntungkan namun mereka berbakat. Siswa dengan
ketidakmampuan seperti di atas perlu dipandang dengan penuh perhatian dan
cermat untuk memelihara potensi mereka sesungguhnya.
8. Tinjauan Ulang Keunggulan dan Keadilan
(Pelayanan)
Durden
dan Tsangherlini (1993) meneliti, telah terjadi perdebatan yang lama di Amerika
Serikat mengenai apakah pendidikan harus memberikan kebutuhan masyarakat yang
menyeluruh atau mendorong pencapaian-pencapaian keunggulan bagi individu.
Mereka mengutip perdebatan yang terkenal antara W.E.B. Du Bois dan Booker T.
Washington. Sementara Washington mempromosikan pendidikan sebagai alat bagi
jutaan populasi Afro-Amerika untuk mendapatkan kemandirian ekonomi, Du Bois
berpendapat, bagi keunggulan akademik untuk “talented teenth” (remaja/ABG anak
baru gede berbakat khusus) yang memberikan kepemimpinan yang diperlukan bagi
persamaan dan kemajuan yang lebih besar.
Kini
ada pendukung dalam keadilan pada satu sisi dan keunggulan di sisi lainnya.
Untuk mencari jawaban keduanya, mungkin terletak di kelas-kelas yang menyambut
keunggulan dan kebutuhan bagi seluruh siswa. Kelas-kelas dengan keberbakatan
penting memberi pengajaran bagi mereka mengenai tempat seluruh anak lainnya
agar dapat meningkatkan keunggulan dan keadilan (pelayanan).
DAFTAR PUSTAKA
Conny
R. Semiawan (1996),
Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Jakarta, Depdikbud Jakarta.
Conny
R. Semiawan & Frieda Mangunsong (2010), Keluarbiasaan Ganda/Twice Exceptionality (Mengeksplorasi,
Mengenal, Mengidentifikasi dan Menanganinya), Jakarta, Kencana Prenada Media
Group
Ganda
Sumekar (2009), Anak
Berkebutuhan Khusus (Cara Membantu Mereka Agar Berhasil dalam Pendidikan
Inklusif), Padang, UNP Press.
Hallahan
& Kauffman (1988), Exceptional
Children, New Jersey, Prentice Hall Incoproduct
Herry
Widiastono (1994), Pendidikan
bagi Peserta Didik yang Memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa
(Berbakat), Bahan Ajar Penataran dan Lokakarya Dosen Jurusan
Pendidikan Luar Biasa.
Heward,
William L. & Orlansky, Michael. D (1988), Exceptional Children, Columbus, Merrill Publishing
Company
Karen
A. Waldron, (1996), Introduction
to a Special Education the Inclusive Classroom, Delmar
Publishers, An International Thomson Publishing Company, http://www.delmar.com/delmar.html.
Kirk,
Samuel.A & Gallagher James. J, (1986), Pendidikan Anak Luar Biasa, terjemahan: H. Moh.
Amin & Ina Yusuf Kusumah, Jakarta, DNIKS.
Moch.
Sholeh Y.A. Ichrom (1996) Identifikasi
dan Pendidikan Dini Anak Berbakat, Depdikbud Jakarta
Mulyono
Abdurrachman & Sudjadi (1994), Pendidikan
Luar Biasa Umum, Jakarta, Depdikbud
Renzulli,
J.S. & S.M. Reis. “The Reform Movement and the Quiet Crisis in Gifted
Education”. Gifted
Child Quarterly.
S.C.
Utami Munandar (1992), Mengembangkan
Bakat dan Kreatifitas Anak Sekolah (Petunjuk bagi Para Guru dan Orang
Tua), Jakarta, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Shapon-Shevin,
M. (1995), “Why
Gefted Students Belong Inclusive School”,
Educational Leadership.
Smith,
J. David (Editor Ahli: Sugiarmin & MIF Baihaqi), (2006), Inklusi Sekolah Ramah untuk
Semua, Bandung, Nuansa
Snow,
J.A. (1992), The
Inclusion Papers: Strategis to Make Inclusion Work. Toronto:
Inclusion Press.
Sue
Stubbs, Alih Bahasa: Susi Septaviana R.Editor: Didi Tarsidi, (2002), Inclusive Education: Where
There Are Few Resources (Pendidikan
Inklusif: Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber),
Jakarta, idpnorway, The Atlas Alliance, Global Support to Disabled People
No comments:
Post a Comment