Manfaat Tes Psikologi bagi
Peserta Didik
Manfaat Tes
Psikologi
Tes Psikologi bermanfaat
untuk mengklasifikasi anak-anak sehingga mereka bisa mengambil manfaat dari
berbagai jenis pelajaran sekolah yang berbeda-beda. Beberapa anak mungkin dapat
memahami matematika dengan mudah namun sebagian anak lainnya menganggap
matematika adalah mata pelajaran yang rumit, dengan mengetahui tingkat
pemahaman peserta didik, memudahkan guru dalam memberikan pelajaran dan
memberikan bimbingan yang lebih intensif pada siswa. Demikian pula dengan siswa
yang memiliki kemampuan yang menonjol pada satu atau beberapa mata pelajaran
tertentu dapat lebih memaksimalkan potensi dan kemampuannya. Tes psikologi juga
bermanfaat dalam konseling pendidikan dan pekerjaan pada tingkat sekolah menengah
dan perguruan tinggi.
Ragam Tes Psikologi
Cukup
banyak ragam tes
psikologi yang dapat diterapkan untuk mengetahui tingkat kemampuan
siswa di bidang-bidang tertentu. Tes psikologi yang
dapat digunakan untuk mengetahui tingkat inteligensi dan kemampuan pada
anak-anak diantaranya, skala wechsler, skala intelegesi Stanford-Binet,
skala kaufman, dan skala kemampuan diferensial.
Terdapat
15 tes dalam tes Stanford-Binet yang mewakili 4 bidang kognitif utama
yaitu penalaran verbal, penalaran abstrak/visual, penalaran kuantitatif dan
memori jangka pendek. Tim Psikolog, juga memiliki kesempatan untuk
menilai karakteristik emosional dan motivasional tertentu seperti kemampuan
konsentrasi , tingkat aktivitas, rasa percayaan diri dan ketekunan.
Skala
Wechsler, disamping penggunaannya sebagai pengukuran kemampuan inteligensi
umum, skala Wechsler dapat pula digunakan dalam diagnosis psikiatris.
Contohnya antara lain observasi kerusakan otak, kemerosotan psikosis, dan lain
lain. Kemerosotan emosional dapat mempengaruhi sebagian fungsi intelektual
individu.
Skala Kaufman, Kaufman Assessment Battery for
Children (K-ABC), adalah alat tes inteligensi yang lebih
mutakhir dari tes-tes sebelumnya. Skala kaufman memberi label anak didik dengan
angka tunggal dan evaluatif seperti misalnya IQ tentu saja diadakan melalui
penggunaan skor-skor majemuk, analisis profil, dan interpretasi diagnostik.
Pengukuran Skala Kaufman kurang mengandalkan keterampilan verbal sehingga alat
ini dapat digunakan sebagai pilihan untuk anak-anak dengan kemahiran bahasa
inggris yang terbatas atau yang memiliki gangguan pendengaran. Bentuk skala
lain yang bisa digunakan adalah Skala kemampuan diferensial (Differential Ability Scales).
Bentuk skala ini akan diuraikan dalam kesempatan lain.
Sering
kita menjumpai pelajar yang pandai saat sekolah di SMU kemudian diterima di
perguruan tinggi unggulan namun kemudian justru mengalami kemunduran saat
kuliah, mengapa hal ini dapat terjadi? Alasan yang rasional karena yang menjadi
pertimbangan saat pemilihan jurusan tidak hanya kemampuan akademis dan
kesesuaian minat tetapi juga prestise kampus maupun pertimbangan kemudahan
mendapat pekerjaan setelah lulus. Inilah yang menjadi kendala saat membantu
siswa memilih jurusan di perguruan tinggi.
Peran
Psikolog
Psikolog
dapat menginterpretasikan hasil tes dan menyampaikan hasilnya pada pengguna tes
(kepala sekolah/ konselor) dan orang tuanya sebagai dasar acuan dalam pemilihan
jurusan yang sesuai maupun dalam pemilihan arah karir sehingga siswa tidak akan
merasa terjebak dalam pemilihan jurusan yang tidak cocok dengan kemampuan,
bakat dan minat siswa.
Psikotes atau Tes psikologi juga
sering dipakai untuk penyeleksian siswa yang melamar masuk
sekolah-sekolah professional. Lembaga pendidikan profesional menuntut siswa
untuk memiliki keahlian di bidang tertentu sehingga memerlukan seleksi yang
lebih ketat dalam penerimaan siswa baru. Contoh untuk sekolah penerbang yang
akan mencetak pilot yang handal, membutuhkan calon siswa yang memiliki tingkat
konsentrasi yang tinggi.
Jenis-Jenis Tes
Psikologi (Psikotes)
Tes Psikologi dan
Bentuknya
Secara
garis besar, ada dua macam test psikologi, yaitu :
1.
Test Kemampuan. Test ini
dikenal populer sebagai test intelegensi atau test IQ. Tes ini mengungkapkan
kondisi intelegensi seseorang, kemampuan mereka dalam memecahkan masalah,
proses kognisi, dan semuanya yang berhubungan dengan faktor kognitif.
2.
Test Kepribadian. Tes kepribadian merupakan
jenis test psikologi yang digunakan untuk mengungkapkan kepribadian yang ada di
dalam diri seseorang, mulai dari dorongan alam bawah sadar, realitas, performa
dalam bekerja, tingkat stress, pengalaman traumatis dll.
Kedua
jenis test diatas terus berkembang dan mengalami penyempurnaan. Berikut
beberapa jenis psikotes yang
cukup populer. Informasi ini diharapkan dapat menjadi wacana bagi lembaga
pendidikan.
Test Kemampuan
Terdapat
beberapa jenis test kemampuan, antara lain :
·
TIU (Test Intelegensi Umum). Merupakan test
intelegensi yang sederhana, dan tes ini merupakan battery test. Test ini
digunakan untuk melihat kapasitas dan kategori inteligensi saja, dan tidak
memunculkan skor intelegensi.
·
APM / CPM / SPM (Advanced / Children /
Standard Progressive Matrices). Tes ini dipergunakan untuk melihat
kategori IQ, dan tidak menghasilkan skor IQ. Test terdiri dari serangkaian
soal-soal yang berbentuk seperti puzzle.
·
IST (Intelligence Structure Scale). Tes ini
terdiri dari 9 subtest. Tiap subtest memiliki batas waktu yang sudah ditentukan
secara formal (battery test).
·
Test Kemampuan Dasar (TKD). Tes ini
terdiri dari 10 buah subtest, yang masing-masing mengukur kemampuan inteligensi
yang dikembangkan oleh seorang pakar bernama Thurstone. Tes ini banyak
digunakan sebagai tes inteligensi pada sekolah-sekolah.
·
CFIT (Culture Fair Intelligence Test). Merupakan test
inteligensi yang bersifat lintas kultural / universal. CFIT ini terdiri dari 4
subtest, yang memberikan gambaran kapasitas Inteligensi seseorang, dan tidak
menghasilkan skor IQ.
·
WAIS / WISC (Weschler Adult Intelligence
Scale / Weschler Intelligence Scale for Children). Tes ini terdiri
dari 11 subtest, yang terbagi menjadi subtest verbal dan juga performance. Tes
ini dipergunakan untuk mengukur IQ individu.
Tes Kepribadian
·
EPPS ( Edward’s Preference Personal
Schedule). Tes
EPPS ini merupakan test kepribadian yang mencermati berbagai kebutuhan dari
individu. Test EPPS ini terdiri dari 220 pernyataan, individu diminta untuk
memilih A atau B sesuai dengan apa yang dirasakan oleh individu yang
bersangkutan.
·
Tes Warteg. Tes Warteg
merupakan test yang sering ditemui saat kegiatan rekrutmen & seleksi di
perusahaan. Test Warteg ini terdiri dari satu lembar kertas dengan gambar 8
buah kotak yang didalmnya terdapat beberapa macam tanda–tanda kecil. Tugas
individu peserta tes adalah melanjutkan pola tersebut menjadi sebuah bentuk
atau gambar tertentu. Test Wartegg ini banyak melihat proses adaptasi individu
dan juga kemampuan problem solving.
·
SSCT / Sack’s Sentence Completion Test. Tes SSCT ini
merupakan test melengkapi kalimat. Dalam alat test ini terdapat 60 kalimat atau
pernyataan yang belum lengkap. Individu peserta tes diminta untuk melengkapi
kalimat-kalimat tersebut, sesuai dengan apa yang dipikirkan/ dirasakan pertama
kali. Test SSCT ini banyak mengungkapkan kasus masalah masa lalu, masa depan,
rasa bersalah, masalah terhadap orangtua dan juga tentang relasi sosial.
·
Tes Rorschach. Tes Rorschach
ini merupakan
test dengan menggunakan sarana bercak tinta. Tes ini menggunakan 10 buah kartu.
Dalam kartu-kartu tersebut terdapat pola – pola abstrak yang dibuat menggunakan
bercak-bercak tinta. Tugas peserta adalah menyebutkan pandangan mereka
bentuk-bentuk apa saja yang muncul pada masing-masing kartu. Test individual ini
merupakan tes yang cukup lengkap. Tes ini mampu melihat pengalaman masa lalu,
pengalaman traumatis, emosi, kecemasan, dll
·
RMIB. Tes RMIB
(Rothwell Miller Interest Blank) ini dikembangkan oleh Rothwell pada tahun
1947. Pada tahun 1950, tes ini kemudian diperbaharui oleh Miller. Tes Rothwell
Miller Interest Blank adalah test minat bakat yang sudah terstandarisasi.
·
Tes Pauli dan Kraeplin. Tes Pauli dan
Kraeplin merupakan jenis tes kepribadian. Tes
ini termasuk kategori battery test yakni test yang menggunakan waktu. Dalam tes
ini, individu harus bisa menyelesaikan test dalam waktu tertentu. Tes ini mampu
mengukur semangat kerja, kinerja, resistensi terhadap stres dan bakat-bakat
lainnya
·
DISC. DISC merupakan
alat test psikologi yang terdiri dari 24 nomor, dengan masing-masing nomor
memiliki 4 pilihan jawaban. Individu diminta untuk memilih 2 kecendrungan,
yaitu yang paling mendekati dirinya (most),
dan yang paling tidak mendekati dirinya (least).
DISC mengukur 3 macam kondisi atau keadaan, yaitu true self, kepribadian
yang ditunjukkan saat berada dalam masalah, dan kepribadian yang ditunjukkan
kepada orang lain.
·
Tes Papikostik. Tes ini
merupakan tes
kepribadian yang cukup populer digunakan dalam kegiatan seleksi
pekerjaan. Tes
kepribadian Papikostik ini dapat mengungkapkan sifat atau kepribadian
seseorang. Aplikasi tes
kepribadian ini cukup mudah, peserta hanya perlu mengisi
pernyataan-pernyataan yang ada sesuai dengan apa yang dirasakan individu yang
bersangkutan.
·
Dragon test. Tes ini disusun
oleh J.D Lammerts Van Beuren-Smith (psikolog Swiss). Tes yang ditujukan untuk
anak-anak ini termasuk tes proyeksi, digunakan untuk mengetahui
permasalahan emosional, trauma masa lalu yang dialami oleh anak.
·
Draw a Family. Draw a Family
test (DAF) ini dikembangkan oleh Hulse pada tahun 1951. Tes
proyeksi ini digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang dengan menggambar
keluarga. Tes DAF ini untuk mengetahui hubungan seseorang dengan lingkungan dan
sikap mereka terhadap keluarga.
·
Thematic Apperception Test. Tes TAT ini
merupakan test kepribadian yang masuk ke dalam test bercerita. Tersedia 20
kartu (versi Murray) atau dapat menggunakan 10 kartu (Versi Bellak). Tugas
peserta adalah menceritakan secara lisan kejadian yang muncul pada gambar
tersebut, siapa tokoh utama, apa saja penyebab kejadian, dan juga
bagaimana ending cerita
secara utuh. Test individual ini mampu mengungkap konflik internal, kecemasan,
kebutuhan individu & hubungan antar keluarga.
·
Draw A Person. Tes DAP ini,
sesuai dengan namanya, peserta hanya diminta untuk menggambarkan manusia.
Menggambar bebas, tidak mengikat, peserta boleh menggambar lebih dari satu
manusia, jenis kelamin bebas, bentuk tubuh bebas. Tes DAP ini digunakan untuk
melihat konsep diri individu yang bersangkutan.
·
BAUM / The Tree Test. Test ini merupakan
test yang digunakan untuk melihat struktur kepribadian seseorang. Tes ini untuk
melihat kondisi Id, Ego, dan juga Super Ego. Test ini berhubungan dengan Impuls
yang ada di dalam diri individu, serta bagaimana individu mampu untuk
mengendalikan impuls tersebut. Peserta tes mendapat tugas untuk menggambar
pohon yang berkambium. Tes ini untuk melihat seberapa kokohnya individu dalam
mengendalikan impuls dan mengontrol dirinya sendiri.
·
House Tree Person (HTP). Dalam tes ini,
peserta tes diminta untuk menggambarkan rumah, pohon dan manusia. Peserta bebas
menggambar, seberapa banyak, seberapa besar, atau bahkan bisa jadi tidak
menggambar sama sekali. Test ini untuk melihat bagaimana persepsi peserta
terhadap sosok ayah, ibu, dan juga dirinya sendiri. Tes ini juga menggambarkan
bagaimana penerimaan sosial dari individu yang bersangkutan.
Tes
Psikologi & Tes Kepribadian untuk Anak Didik
Data
Informasi mengenai kondisi peserta didik sangat dibutuhkan untuk tercapainya
tujuan dari konseling. Guna mengetahui karakter dari para siswa, salah satu
cara yang bisa dilakukan dengan mengadakan tes kepribadian.
Kepala Sekolah, pendidik, orang tua, konselor di sekolah sangat perlu untuk
mengetahui informasi tentang peserta didiknya, hal ini bisa didapatkan
dari tes
kepribadian peserta didik tersebut.
Tes Kepribadian
Tes kepribadian (Personality Test)
adalah penggunaan seperangkat alat tes yang disusun untuk mendeskripsikan
bagaimana kecenderungan individu bertingkah laku. Tes kepribadian sebenarnya
adalah deskripsi kualitatif dari kepribadian, bukannya deskripsi kuantitatif (
berdasarkan angka-angka). Kepribadian tidak dapat diukur, tetapi hanya dapat
dideskripsikan. Untuk membantu mengenal kepribadian seseorang, alat tes kepribadian menggunakan
bantuan berupa angka-angka dan kemudian hasilnya dideskripsikan ke dalam
penjelasan kualitatif. Angka yang didapatkan seorang peserta pada tes kepribadian bukanlah
angka sesungguhnya. Angka disini hanyalah sebagai fungsi alat bantu untuk
mendeskripsikan kepribadian, misalnya individu X lebih kreatif dalam
pekerjaannya dibandingkan dengan individu Y.
Tujuan Tes Kepribadian
Personality Test atau Tes kepribadian adalah
tes yang diadakan dengan tujuan mengungkap ciri-ciri khas seseorang yang
umumnya bersifat lahiriah, seperti kreatifitas, gaya bicara, cara berbusana,
nada suara, hobi / kegemaran, dll. Setiap individu memiliki kepribadian yang
unik, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan individu-individu lain dalam
pendeskripsiannya. Kepribadian tidak mengandung unsur nilai seperti baik buruk,
tinggi rendah, dan lain sebagainya.
Metode Tes Kepribadian
Tes kepribadian bertujuan
untuk mengungkap kecenderungan kepribadian seseorang. Ada banyak metode tes kepribadian, bisa
berbentuk tes proyektif maupun tes non proyektif. Tes proyektif umumnya
membutuhkan media khusus untuk memproyeksikan minat, perhatian, dorongan,
perasaan, maupun sentimen. Media tes proyektif bisa berupa bercak tinta,
kartu/gambar maupun kalimat. Contoh tes kepribadian adalah
tes Rorschach, tes grafis, TAT/CAT/SAT, EPPS dan lain-lain.
Guna
mempermudah pengukuran kepribadian, disusunlah suatu kriteria kepribadian dalam
bentuk pengelompokan. Saat ini, dalam teori psikologi dikenal pengelompokan
kepribadian yang disebut DSM atau Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorders.
Fungsi
Tes Psikologi untuk Pendidikan
Fungsi Tes Psikologi
Menurut
tinjauan sejumlah literatur, tes psikologi memiliki
beberapa fungsi-fungsi. Tes Psikologi dapat
memberikan data untuk membantu para siswa/ mahasiswa dalam meningkatkan penerimaan
diri (self acceptance),
pemahaman diri (self
understanding), dan penilaian diri (self evaluation). Hasil yang diperoleh
dari psikotes dapat
digunakan siswa/ mahasiswa untuk meningkatkan persepsi dirinya secara optimal
dan untuk mengembangkan kemampuan individu (eksplorasi) dalam beberapa bidang
tertentu. Tes
psikologi (psikotes)
berfungsi dalam banyak hal yang meliputi fungsi memprediksi, fungsi memperkuat,
serta fungsi meyakinkan para siswa.
Fungsi utama Tes psikologi antara
lain:
1.
Fungsi Diagnosis : Sebagai
alat yang berfungsi mendiagnosis kesehatan dan potensi siswa. Tes psikologi dapat
memberikan gambaran mengenai karakteristik, gejala, penyebab maupun tanda-tanda
yang mengarah pada bentuk bentuk gangguan, masalah atau penyakit yang dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar para siswa. Misalkan, seorang pelajar
yang mengalami gangguan konsentrasi belajar kemudian diberikan tes psikologiguna
menggali penyebab kesulitan belajar tersebut. Dari hasil tes akan diketahui
faktor-faktor penyebabnya, misalnya masalah dalam hubungan keluarga, masalah
dengan guru dan teman sekolah, masalah penyesuaian diri, atau mungkin ada
gangguan pada saraf yang kemudian akan diberi rekomendasi-rekomendasi
pemeriksaan medis oleh pihak-pihak yang ahli sesuai profesinya.
2.
Fungsi Prediksi : Tes psikologi bertujuan
untuk memprediksi potensi/kemampuan yang dimiliki siswa dalam kaitannya dengan
pencapaian hasil belajar di masa yang akan datang. Contoh tes psikologiuntuk
memprediksi keberhasilan siswa/mahasiswa dalam belajar tugas-tugas pada suatu
jurusan tertentu.
3.
Fungsi Monitoring : Tes psikologi akan
membantu dalam melihat seberapa jauh perkembangan dan kemajuan siswa/
mahasiswa, mulai dari siswa tersebut diterima di sekolah, saat orientasi,
mengikuti pelajaran, maupun beraktivitas dan berkreasi di sekolah. Jika memang
siswa tidak mengalami perkembangan atau kemajuan sesuai yang diharapkan, maka
perlu ada bimbingan dan penanganan khusus.
4.
Fungsi Evaluasi : Sebagai
alat evaluasi, tes
psikologi melanjutkan fungsi monitoring, yakni apabila dari hasil tes
terdahulu siswa yang dinyatakan bermasalah akan dikenai bimbingan atau
penanganan. Setelah bimbingan dan penanganan tersebut, tentunya akan diketahui
efektivitas dari pemberian bimbingan dan penanganan itu.
Secara spesifik, tes psikologis
mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut :
1.
Fungsi seleksi : Fungsi
seleksi ini berguna untuk memutuskan siswa-siswa mana yang akan dipilih,
misalnya tes seleksi suatu lembaga kependidikan/ perguruan tinggi atau tes
seleksi suatu jenis jabatan/ pekerjaan tertentu.
2.
Fungsi klasifikasi : Fungsi ini
bertujuan untuk mengklasifikasikan siswa-siswa dalam kelompok sejenis, misalnya
mengelompokkan siswa yang mempunyai masalah yang sejenis, sehingga dapat
diberikan bantuan yang sesuai dengan masalahnya.
3.
Fungsi deskripsi : Fungsi
deskripsi yaitu hasil tes psikologis yang
telah dilakukan tanpa klarifikasi tertentu, misalnya melaporkan profil
seseorang yang telah dites inventori minat.
4.
Mengevaluasi suatu treatment : Bertujuan
untuk mengetahui suatu tindakan yang telah dilakukan terhadap siswa atau
sekelompok siswa telah tercapai atau belum. Misalnya, seorang siswa yang
mengalami kesulitan belajar diberikan tugas-tugas remedial. Setelah pelaksanaan
remedial kemudian diadakan tes untuk mengetahui apakah tugas remedial tersebut
sudah efektif atau belum.
5.
Menguji suatu hipotesis : Bertujuan
untuk mengetahui apakah hipotesis yang dikemukakan dari sebuah teori itu
terbukti atau tidak terbukti. Untuk menguji hipotesis yang dikemukakan itu
dapat dilakukan suatu metode penelitian kuantitatif.
Dari uraian diatas, dapat
disimpulkan bahwa tes
psikologis memiliki berbagai fungsi, diantaranya untuk evaluasi,
klasifikasi, deskripsi, menguji hipotesis, juga berfungsi untuk seleksi. Semua
fungsi di atas dapat dipergunakan sebagai kerangka acuan membantu siswa dalam
meningkatkan hasil belajar dan untuk membantu dalam proses pengambilan
keputusan karir di masa yang akan datang.