Wednesday, August 7, 2019

Manfaat Tes Psikologi


Manfaat Tes Psikologi bagi Peserta Didik

 

Manfaat Tes Psikologi

Tes Psikologi bermanfaat untuk mengklasifikasi anak-anak sehingga mereka bisa mengambil manfaat dari berbagai jenis pelajaran sekolah yang berbeda-beda. Beberapa anak mungkin dapat memahami matematika dengan mudah namun sebagian anak lainnya menganggap matematika adalah mata pelajaran yang rumit, dengan mengetahui tingkat pemahaman peserta didik, memudahkan guru dalam memberikan pelajaran dan memberikan bimbingan yang lebih intensif pada siswa. Demikian pula dengan siswa yang memiliki kemampuan yang menonjol pada satu atau beberapa mata pelajaran tertentu dapat lebih memaksimalkan potensi dan kemampuannya. Tes psikologi juga bermanfaat dalam konseling pendidikan dan pekerjaan pada tingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Ragam Tes Psikologi

Cukup banyak ragam tes psikologi yang dapat diterapkan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa di bidang-bidang tertentu. Tes psikologi yang dapat  digunakan untuk mengetahui tingkat inteligensi dan kemampuan pada anak-anak diantaranya, skala wechsler, skala intelegesi Stanford-Binet, skala kaufman, dan skala kemampuan diferensial.
Terdapat 15 tes dalam tes Stanford-Binet yang mewakili 4 bidang kognitif utama yaitu penalaran verbal, penalaran abstrak/visual, penalaran kuantitatif dan memori jangka pendek. Tim Psikolog,  juga memiliki kesempatan untuk menilai karakteristik emosional dan motivasional tertentu seperti kemampuan konsentrasi , tingkat aktivitas, rasa percayaan diri dan ketekunan.
Skala Wechsler, disamping penggunaannya sebagai pengukuran kemampuan inteligensi umum, skala Wechsler dapat pula digunakan dalam diagnosis psikiatris. Contohnya antara lain observasi kerusakan otak, kemerosotan psikosis, dan lain lain. Kemerosotan emosional dapat mempengaruhi sebagian fungsi intelektual individu.
Skala Kaufman, Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC), adalah alat tes inteligensi yang lebih mutakhir dari tes-tes sebelumnya. Skala kaufman memberi label anak didik dengan angka tunggal dan evaluatif seperti misalnya IQ tentu saja diadakan melalui penggunaan skor-skor majemuk, analisis profil, dan interpretasi diagnostik. Pengukuran Skala Kaufman kurang mengandalkan keterampilan verbal sehingga alat ini dapat digunakan sebagai pilihan untuk anak-anak dengan kemahiran bahasa inggris yang terbatas atau yang memiliki gangguan pendengaran. Bentuk skala lain yang bisa digunakan adalah Skala kemampuan diferensial (Differential Ability Scales). Bentuk skala ini akan diuraikan dalam kesempatan lain.
Sering kita menjumpai pelajar yang pandai saat sekolah di SMU kemudian diterima di perguruan tinggi unggulan  namun kemudian justru mengalami kemunduran saat kuliah, mengapa hal ini dapat terjadi? Alasan yang rasional karena yang menjadi pertimbangan saat pemilihan jurusan tidak hanya kemampuan akademis dan kesesuaian minat tetapi juga prestise kampus maupun pertimbangan kemudahan mendapat pekerjaan setelah lulus. Inilah yang menjadi kendala saat membantu siswa memilih jurusan di perguruan tinggi.

Peran Psikolog

Psikolog dapat menginterpretasikan hasil tes dan menyampaikan hasilnya pada pengguna tes (kepala sekolah/ konselor) dan orang tuanya sebagai dasar acuan dalam pemilihan jurusan yang sesuai maupun dalam pemilihan arah karir sehingga siswa tidak akan merasa terjebak dalam pemilihan jurusan yang tidak cocok dengan kemampuan, bakat dan minat siswa.
Psikotes atau Tes psikologi juga sering  dipakai untuk penyeleksian siswa yang melamar masuk sekolah-sekolah professional. Lembaga pendidikan profesional menuntut siswa untuk memiliki keahlian di bidang tertentu sehingga memerlukan seleksi yang lebih ketat dalam penerimaan siswa baru. Contoh untuk sekolah penerbang yang akan mencetak pilot yang handal, membutuhkan calon siswa yang memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi. 

Jenis-Jenis Tes Psikologi (Psikotes)

Tes Psikologi dan Bentuknya

Secara garis besar, ada dua macam test psikologi, yaitu :
1.  Test Kemampuan. Test ini dikenal populer sebagai test intelegensi atau test IQ. Tes ini mengungkapkan kondisi intelegensi seseorang, kemampuan mereka dalam memecahkan masalah, proses kognisi, dan semuanya yang berhubungan dengan faktor kognitif.
2.  Test Kepribadian. Tes kepribadian merupakan jenis test psikologi yang digunakan untuk mengungkapkan kepribadian yang ada di dalam diri seseorang, mulai dari dorongan alam bawah sadar, realitas, performa dalam bekerja, tingkat stress, pengalaman traumatis dll.
Kedua jenis test diatas terus berkembang dan mengalami penyempurnaan. Berikut beberapa jenis psikotes yang cukup populer. Informasi ini diharapkan dapat menjadi wacana bagi lembaga pendidikan.

Test Kemampuan

Terdapat beberapa jenis test kemampuan, antara lain :
·       TIU (Test Intelegensi Umum). Merupakan test intelegensi yang sederhana, dan tes ini merupakan battery test.  Test ini digunakan untuk melihat kapasitas dan kategori inteligensi saja, dan tidak memunculkan skor intelegensi.
·       APM / CPM / SPM (Advanced / Children / Standard Progressive Matrices). Tes ini dipergunakan untuk melihat kategori IQ, dan tidak menghasilkan skor IQ. Test terdiri dari serangkaian soal-soal yang berbentuk seperti puzzle.
·       IST (Intelligence Structure Scale). Tes ini terdiri dari 9 subtest. Tiap subtest memiliki batas waktu yang sudah ditentukan secara formal (battery test).
·       Test Kemampuan Dasar (TKD). Tes ini terdiri dari 10 buah subtest, yang masing-masing mengukur kemampuan inteligensi yang dikembangkan oleh seorang pakar bernama Thurstone. Tes ini banyak digunakan sebagai tes inteligensi pada sekolah-sekolah.
·       CFIT (Culture Fair Intelligence Test). Merupakan test inteligensi yang bersifat lintas kultural / universal. CFIT ini terdiri dari 4 subtest, yang memberikan gambaran kapasitas Inteligensi seseorang, dan tidak menghasilkan skor IQ.
·       WAIS / WISC (Weschler Adult Intelligence Scale / Weschler Intelligence Scale for Children). Tes ini terdiri dari 11 subtest, yang terbagi menjadi subtest verbal dan juga performance. Tes ini dipergunakan untuk mengukur IQ individu.

Tes Kepribadian

·       EPPS ( Edward’s Preference Personal Schedule). Tes EPPS ini merupakan test kepribadian yang mencermati berbagai kebutuhan dari individu. Test EPPS ini terdiri dari 220 pernyataan, individu diminta untuk memilih A atau B sesuai dengan apa yang dirasakan oleh individu yang bersangkutan.
·       Tes Warteg. Tes Warteg merupakan test yang sering ditemui saat kegiatan rekrutmen & seleksi di perusahaan. Test Warteg ini terdiri dari satu lembar kertas dengan gambar 8 buah kotak yang didalmnya terdapat beberapa macam tanda–tanda kecil. Tugas individu peserta tes adalah melanjutkan pola tersebut menjadi sebuah bentuk atau gambar tertentu. Test Wartegg ini banyak melihat proses adaptasi individu dan juga kemampuan problem solving.
·       SSCT / Sack’s Sentence Completion Test. Tes SSCT ini merupakan test melengkapi kalimat. Dalam alat test ini terdapat 60 kalimat atau pernyataan yang belum lengkap. Individu peserta tes diminta untuk melengkapi kalimat-kalimat tersebut, sesuai dengan apa yang dipikirkan/ dirasakan pertama kali. Test SSCT ini banyak mengungkapkan kasus masalah masa lalu, masa depan, rasa bersalah, masalah terhadap orangtua dan juga tentang relasi sosial.
·       Tes Rorschach. Tes Rorschach ini merupakan test dengan menggunakan sarana bercak tinta. Tes ini menggunakan 10 buah kartu. Dalam kartu-kartu tersebut terdapat pola – pola abstrak yang dibuat menggunakan bercak-bercak tinta. Tugas peserta adalah menyebutkan pandangan mereka bentuk-bentuk apa saja yang muncul pada masing-masing kartu. Test individual ini merupakan tes yang cukup lengkap. Tes ini mampu melihat pengalaman masa lalu, pengalaman traumatis, emosi, kecemasan, dll
·       RMIB. Tes RMIB (Rothwell Miller Interest Blank) ini dikembangkan oleh Rothwell pada tahun 1947. Pada tahun 1950, tes ini kemudian diperbaharui oleh Miller. Tes Rothwell Miller Interest Blank adalah test minat bakat yang sudah terstandarisasi.
·       Tes Pauli dan Kraeplin. Tes Pauli dan Kraeplin merupakan jenis tes kepribadian. Tes ini termasuk kategori battery test yakni test yang menggunakan waktu. Dalam tes ini, individu harus bisa menyelesaikan test dalam waktu tertentu. Tes ini mampu mengukur semangat kerja, kinerja, resistensi terhadap stres dan bakat-bakat lainnya
·       DISC. DISC merupakan alat test psikologi yang terdiri dari 24 nomor, dengan masing-masing nomor memiliki 4 pilihan jawaban. Individu diminta untuk memilih 2 kecendrungan, yaitu yang paling mendekati dirinya (most), dan yang paling tidak mendekati dirinya (least). DISC mengukur 3 macam kondisi atau keadaan, yaitu true self, kepribadian yang ditunjukkan saat berada dalam masalah, dan kepribadian yang ditunjukkan kepada orang lain.
·       Tes Papikostik. Tes ini merupakan tes kepribadian yang cukup populer digunakan dalam kegiatan seleksi pekerjaan. Tes kepribadian Papikostik ini dapat mengungkapkan sifat atau kepribadian seseorang. Aplikasi tes kepribadian ini cukup mudah, peserta hanya perlu mengisi pernyataan-pernyataan yang ada sesuai dengan apa yang dirasakan individu yang bersangkutan.
·       Dragon test. Tes ini disusun oleh J.D Lammerts Van Beuren-Smith (psikolog Swiss). Tes yang ditujukan untuk anak-anak ini termasuk tes proyeksi, digunakan untuk  mengetahui permasalahan emosional, trauma masa lalu yang dialami oleh anak.
·       Draw a Family. Draw a Family test (DAF) ini dikembangkan oleh Hulse pada tahun 1951.   Tes proyeksi ini digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang dengan menggambar keluarga. Tes DAF ini untuk mengetahui hubungan seseorang dengan lingkungan dan sikap mereka terhadap keluarga.
·       Thematic Apperception Test. Tes TAT ini merupakan test kepribadian yang masuk ke dalam test bercerita. Tersedia 20 kartu (versi Murray) atau dapat menggunakan 10 kartu (Versi Bellak). Tugas peserta adalah menceritakan secara lisan kejadian yang muncul pada gambar tersebut, siapa tokoh utama, apa saja penyebab kejadian, dan juga bagaimana ending cerita secara utuh. Test individual ini mampu mengungkap konflik internal, kecemasan, kebutuhan individu & hubungan antar keluarga.
·       Draw A Person. Tes DAP ini, sesuai dengan namanya, peserta hanya diminta untuk menggambarkan manusia. Menggambar bebas, tidak mengikat, peserta boleh menggambar lebih dari satu manusia, jenis kelamin bebas, bentuk tubuh bebas. Tes DAP ini digunakan untuk melihat konsep diri individu yang bersangkutan.
·       BAUM / The Tree Test. Test ini merupakan test yang digunakan untuk melihat struktur kepribadian seseorang. Tes ini untuk melihat kondisi Id, Ego, dan juga Super Ego. Test ini berhubungan dengan Impuls yang ada di dalam diri individu, serta bagaimana individu mampu untuk mengendalikan impuls tersebut. Peserta tes mendapat tugas untuk menggambar pohon yang berkambium. Tes ini untuk melihat seberapa kokohnya individu dalam mengendalikan impuls dan mengontrol dirinya sendiri.
·       House Tree Person (HTP). Dalam tes ini, peserta tes diminta untuk menggambarkan rumah, pohon dan manusia. Peserta bebas menggambar, seberapa banyak, seberapa besar, atau bahkan bisa jadi  tidak menggambar sama sekali. Test ini untuk melihat bagaimana persepsi peserta terhadap sosok ayah, ibu, dan juga dirinya sendiri. Tes ini juga menggambarkan bagaimana penerimaan sosial dari individu yang bersangkutan.

Tes Psikologi & Tes Kepribadian untuk Anak Didik

Data Informasi mengenai kondisi peserta didik sangat dibutuhkan untuk tercapainya tujuan dari konseling. Guna mengetahui karakter dari para siswa, salah satu cara yang bisa dilakukan dengan mengadakan tes kepribadian. Kepala Sekolah, pendidik, orang tua, konselor di sekolah sangat perlu untuk mengetahui informasi tentang peserta didiknya, hal ini bisa didapatkan dari tes kepribadian peserta didik tersebut.

Tes Kepribadian

Tes kepribadian (Personality Test)  adalah penggunaan seperangkat alat tes yang disusun untuk mendeskripsikan bagaimana kecenderungan individu bertingkah laku. Tes kepribadian sebenarnya adalah deskripsi kualitatif dari kepribadian, bukannya deskripsi kuantitatif ( berdasarkan angka-angka). Kepribadian tidak dapat diukur, tetapi hanya dapat dideskripsikan. Untuk membantu mengenal kepribadian seseorang, alat tes kepribadian menggunakan bantuan berupa angka-angka dan kemudian hasilnya dideskripsikan ke dalam penjelasan kualitatif. Angka yang didapatkan seorang peserta pada tes kepribadian bukanlah angka sesungguhnya. Angka disini hanyalah sebagai fungsi alat bantu untuk mendeskripsikan kepribadian, misalnya individu X lebih kreatif dalam pekerjaannya dibandingkan dengan individu Y.

Tujuan Tes Kepribadian

Personality Test atau Tes kepribadian adalah tes yang diadakan dengan tujuan mengungkap ciri-ciri khas seseorang yang umumnya bersifat lahiriah, seperti kreatifitas, gaya bicara, cara berbusana, nada suara, hobi / kegemaran, dll. Setiap individu memiliki kepribadian yang unik, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan individu-individu lain dalam pendeskripsiannya. Kepribadian tidak mengandung unsur nilai seperti baik buruk, tinggi rendah, dan lain sebagainya.

Metode Tes Kepribadian

Tes kepribadian bertujuan untuk mengungkap kecenderungan kepribadian seseorang. Ada banyak metode tes kepribadian, bisa berbentuk tes proyektif maupun tes non proyektif. Tes proyektif umumnya membutuhkan media khusus untuk memproyeksikan minat, perhatian, dorongan, perasaan, maupun sentimen. Media tes proyektif bisa berupa bercak tinta, kartu/gambar maupun kalimat. Contoh tes kepribadian adalah tes Rorschach, tes grafis, TAT/CAT/SAT, EPPS dan lain-lain.
Guna mempermudah pengukuran kepribadian, disusunlah suatu kriteria kepribadian dalam bentuk pengelompokan. Saat ini, dalam teori psikologi dikenal pengelompokan kepribadian yang disebut DSM atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.

Fungsi Tes Psikologi untuk Pendidikan

Fungsi Tes Psikologi

Menurut tinjauan sejumlah literatur, tes psikologi memiliki beberapa fungsi-fungsi. Tes Psikologi dapat memberikan data untuk membantu para siswa/ mahasiswa dalam meningkatkan penerimaan diri (self acceptance), pemahaman diri (self understanding), dan penilaian diri (self evaluation). Hasil yang diperoleh dari psikotes dapat digunakan siswa/ mahasiswa untuk meningkatkan persepsi dirinya secara optimal dan untuk mengembangkan kemampuan individu (eksplorasi) dalam beberapa bidang tertentu. Tes psikologi (psikotes) berfungsi dalam banyak hal yang meliputi fungsi memprediksi, fungsi memperkuat, serta fungsi meyakinkan para siswa.

Fungsi utama Tes psikologi antara lain:

1.  Fungsi Diagnosis : Sebagai alat yang berfungsi mendiagnosis kesehatan dan potensi siswa. Tes psikologi dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik, gejala, penyebab maupun tanda-tanda yang mengarah pada bentuk bentuk gangguan, masalah atau penyakit yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar para siswa. Misalkan, seorang pelajar yang mengalami gangguan konsentrasi belajar kemudian diberikan tes psikologiguna menggali penyebab kesulitan belajar tersebut. Dari hasil tes akan diketahui faktor-faktor penyebabnya, misalnya masalah dalam hubungan keluarga, masalah dengan guru dan teman sekolah, masalah penyesuaian diri, atau mungkin ada gangguan pada saraf yang kemudian akan diberi rekomendasi-rekomendasi pemeriksaan medis oleh pihak-pihak yang ahli sesuai profesinya.
2.  Fungsi Prediksi : Tes psikologi bertujuan untuk memprediksi potensi/kemampuan yang dimiliki siswa dalam kaitannya dengan pencapaian hasil belajar di masa yang akan datang. Contoh tes psikologiuntuk memprediksi keberhasilan siswa/mahasiswa dalam belajar tugas-tugas pada suatu jurusan tertentu.
3.  Fungsi Monitoring : Tes psikologi akan membantu dalam melihat seberapa jauh perkembangan dan kemajuan siswa/ mahasiswa, mulai dari siswa tersebut diterima di sekolah, saat orientasi, mengikuti pelajaran, maupun beraktivitas dan berkreasi di sekolah. Jika memang siswa tidak mengalami perkembangan atau kemajuan sesuai yang diharapkan, maka perlu ada bimbingan dan penanganan khusus.
4.  Fungsi Evaluasi : Sebagai alat evaluasi, tes psikologi melanjutkan fungsi monitoring, yakni apabila dari hasil tes terdahulu siswa yang dinyatakan bermasalah akan dikenai bimbingan atau penanganan. Setelah bimbingan dan penanganan tersebut, tentunya akan diketahui efektivitas dari pemberian bimbingan dan penanganan itu.

Secara spesifik, tes psikologis mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut :

1.  Fungsi seleksi : Fungsi seleksi ini berguna untuk memutuskan siswa-siswa mana yang akan dipilih, misalnya tes seleksi suatu lembaga kependidikan/ perguruan tinggi atau tes seleksi suatu jenis jabatan/ pekerjaan tertentu.
2.  Fungsi klasifikasi : Fungsi ini bertujuan untuk mengklasifikasikan siswa-siswa dalam kelompok sejenis, misalnya mengelompokkan siswa yang mempunyai masalah yang sejenis, sehingga dapat diberikan bantuan yang sesuai dengan masalahnya.
3.  Fungsi deskripsi : Fungsi deskripsi yaitu hasil tes psikologis yang telah dilakukan tanpa klarifikasi tertentu, misalnya melaporkan profil seseorang yang telah dites inventori minat.
4.  Mengevaluasi suatu treatment : Bertujuan untuk mengetahui suatu tindakan yang telah dilakukan terhadap siswa atau sekelompok siswa telah tercapai atau belum. Misalnya, seorang siswa yang mengalami kesulitan belajar diberikan tugas-tugas remedial. Setelah pelaksanaan remedial kemudian diadakan tes untuk mengetahui apakah tugas remedial tersebut sudah efektif atau belum.
5.  Menguji suatu hipotesis : Bertujuan untuk mengetahui apakah hipotesis yang dikemukakan dari sebuah teori itu terbukti atau tidak terbukti. Untuk menguji hipotesis yang dikemukakan itu dapat dilakukan suatu metode penelitian kuantitatif.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tes psikologis memiliki berbagai fungsi, diantaranya untuk evaluasi, klasifikasi, deskripsi, menguji hipotesis, juga berfungsi untuk seleksi. Semua fungsi di atas dapat dipergunakan sebagai kerangka acuan membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar dan untuk membantu dalam proses pengambilan keputusan karir di masa yang akan datang.


No comments:

Post a Comment

Popular Posts

FanPage

Jangan Lupa Like ya
×