Pebruari jingga, menoreh asa pada kertap suara
tetestetes bulir air hujan, percikan air sisa hujan dari genting itu,
tanpa gegas menetes lalu perlahan meluruh pada kaca jendela dan
mengalur membuat garis lalu menghilang dan tak sempat merapatkan
wajahnya di tanah tandus sisa oktober yang merana oleh kemarau.
Topan sangat riang menyambut pagi hari, sebab sejawatnya Tata akan menemuinya siang ini untuk menikmati secangkir kopi, kopi hitam hangat dengan sedikit gula, aromanya harum merangsang memori sepanjang masa yang dikatanya sebagai sejarah.
Ia bergegas ke kamar mandi sembari bernyanyi
“aku bisa membuatmu jatuh cin...”
Ia tertawa sendiri, seolah mendapat hadiah dari langit
“beri sedikit waktu biar cin...”
Ia tertawa lagi, kali ini lebih riang
“datang karena telah terbiasa”.
Selepas melakukan hajatnya dikamar mandi ia nyalakan tivi, tak ditontonnya, kali ini tivi yang menonton dirinya mematut diri didepan cermin menyisiri rambutnya dan menyemprotkan minyak wangi pada sekujur tubuhnya, pada layar tivi yang asyik menontonnya terdengar riuh orang-orang membicarakan gosip dari aneka sudut pandang, ia bergeming, tak peduli.
Sebab ia meyakini hampir semua tayangan tivi adalah sampah, dan ia terpengaruh juga oleh sebuah quote yang dibacanya dalam sebuah buku,
“pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan?”.
Ia menatap lekatlekat wajahnya pada cermin dihadapannya. Lalu gumamnya
“Tak ada kebenaran yang mudah, ia harus diuji, bahkan dicaci kalau perlu. Jangan ragu, hadapi saja”
Lalu ia beralih ke tepi jendela. kamarnya berada di lantai kedua tepat diatas bangunan utama rumah yang merangkap kantor tempatnya bekerja sebagai aktivis sosial. Dari kaca jendela ia menatap keluar kamar, ia berharap ada pelangi yang bisa ia simak. Setidaknya ada keindahan yang bisa ia cerap dalam kegelisahannya menunggu. Tapi tak ada, hujan kali ini kurang berbaik hati padanya.
Tibatiba ia menjadi murung, ada percikan air sisa hujan dari genting, tanpa gegas menetes lalu perlahan meluruh pada kaca jendela dan mengalur membuat garis lalu hilang, ia memperhatikan dengan seksama, kejadian itu berulangulang beberapa kali, lalu ingatannya mengembara ke masa akhir ia bersama Tania. Gadis manis yang telah membersamainya selama lebih lima tahun, dan akhirnya harus berhenti karena mereka belum berhasil mendefinisikan kosakata sederhana yang menghalangi mereka untuk saling mengerti, dan kini setelah ia temukan definisi itu, semuanya sudah berakhir.
Seseorang bisa menjadi angkuh tanpa menjadi sombong, pun sebaliknya. Keangkuhan terkait dengan anggapan kita terhadap diri kita sendiri. Sedangkan kesombongan terkait dengan bagaimana kita menginginkan orang lain berpendapat tentang diri kita.
“pan tolong mengerti, ini untuk kebaikan kita”. Lirih tania, pada perjumpaan terakhir mereka
“ini soal prinsip tan, tak bisakah kita buat ini menjadi sederhana?”
“sederhana katamu, justru kamulah yang rumit. Kamu itu idealis tapi kolot. Apa kau pikir orang akan bersimpati dengan sikap kakumu itu? Tidak, kamu akan ditinggalkan”.
Topan merasa tertohok, ia mengakui dalam hati bahwa penilaian tania terhadapnya adalah benar, tapi ego kelelakiannya tidak menerima. Ia merasa benar, bahwa semua yang dia pikirkan tentang hidup, itu pula yang harus dia ucaplakukan tanpa kecuali, tak ada kompromi.
Tania juga benar tentang satu hal, bahwa hidup itu berjalan kedepan, dan cinta itu lain hal. Ia harus diuji waktu dan diperiksa keberadaannya terus menerus, karena kadang bersembunyi, sesekali nampak dan begitu tegas. Dan yang paling pahit, adalah ketika harus melepaskan ikatannya supaya ia bisa menampakkan diri dengan bebas.
“woiii, jangan melamun aja. Mana kopinya”, teriak tata yang nyelonong masuk kamar,
Topan jadi gelagapan karena tak menyadari pintu dibuka dan tata sudah ada dibelakangnya, ia buruburu memasang tampang riang, dan memang ia selalu bersemangat ketika berada didekat tata yang blakblakan dan sedikit tomboy itu
“yaelah ta, baca salam dulu kek. Maen nyelonong aja”
“habisnya, tata ketuk pintu ga ada sahutan, kirain lagi molor”
“baiklah, baiklah, aku bikinin kopi dulu ya”
“oke, tapi jangan pake lama”.
Topan beranjak meninggalkan ruangan menuju dapur yang berada di lantai bawah untuk membuat dua cangkir kopi. Tata memang perempuan luar biasa, setidaknya itulah kesan topan terhadapnya. Ia mengenal tata sekitar dua bulan lalu pada sebuah diskusi bersama para aktivis membahas peran media dalam mempengaruhi budaya massa.
Tata berpendapat saat ini media sudah hampir menyerupai Tuhan dalam sejarah. Betapa tidak, katanya dengan sengit. Seorang penjahat sekalipun dalam sekejap bisa menyulap dirinya menjadi seperti nabi yang harus diikuti dengan mengadukan kerapuhan dirinya dihadapan media, yang kemudian difirmankan kembali oleh media yang maha kuasa kepada khalayak dan seketika khalayak mengamininya
Topan membantahnya dengan sengit pula, bahwa hal itu tidak berlaku universal. Ada arus lain yang tidak meyakini hal itu, setidaknya meskipun kecil dan minoritas, masyarakat adat yang merawat tradisi luhur dari nenek moyangnya dengan teguh, mereka bisa dijadikan satu model yang tidak lena oleh arus informasi yang dibawa media.
Tata dan Topan, mereka berdikusi berdua, seolah disekeliling mereka hanya kosong dan hampa, keduanya kukuh mempertahankan argumentasi masingmasing, satu memakai kacamata tradisi sebagai basis analisisnya dan lainnya dengan persepektif dunia kontemporer dan masyarakat urban yang segala sesuatunya bersifat semu. Mereka baru berhenti setelah diingatkan oleh peserta diskusi yang lain bahwa pembicaraan mereka sudah jauh melenceng dari tema diskusi, dan supaya clear mereka harus membicarakan hal itu berdua saja. Karena itu sudah menyangkut hal yang subjektif, dan keduanya sepakat dengan hal itu.
Mereka berdua akhirnya menjadi sangat akrab, mereka bilang bahwa ada kotak sejuta mimpi yang harus mereka buka bersamasama karena hanya mereka berdualah yang mengerti, selain itu tak ada yang mereka percaya. Seperti kotak pandora yang misterius dan hanya bisa diakses dengan ketajaman rasa dan kedekatan intim denganNYA sang pemilik kotak tersebut.
Sesingkat kalimat penutup sebuah rapat, dua cangkir kopi hangat tersaji, asapnya meruap menebar aroma wangi, namun wanginya tercium bersicepat, seolah bergegas hendak menegas takdir yang tak bisa dipungkir. Bahwa peziarah selalu dibatasi oleh angan yang tak bisa ia tetapkan sebagai miliknya, sejumlah alasan tak pernah cukup untuk menahannya tetap tinggal menempati ruang, sebab ruang terlalu sempit untuk mereka tempati.
Tata sedang khidmat menekuri air sisa hujan yang begitu riang berloncatan, lalu perlahan menepi pada kaca jendela sebelum akhirnya luruh dan menghilang, topan memperhatikannya tanpa kata, kopi yang ia seduh dibiarkannya saling bercengkrama melepas panas sebelum akhirnya menjadi dingin dan tak beraroma lagi.
“ta,,apa yang sedang kau simak, tampaknya ada beban yang hendak kau singkap” topan berusa memecah kebekuan.
“eh itu,,anu,,hujannya udah berhenti” gagap tata
“bukan soal itu, ada yang sedang kau sembunyikan dari aku,,apakah itu?”
“owh,,gak ada, gak apa apa, mana kopinya”
“kopinya sudah dingin ta,,aku memperhatikanmu dari setengah jam yang lalu”
“hmmm,,”
Hening,
Bahasa tanpa kata lebih mampu memberi pemahaman, mata tata berkacakaca. Topan memandangnya dengan tegar. Ia sadar dan sudah menduga dari awal bahwa hal ini akan terjadi, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini, dan bahwa saat inilah waktunya. Ia menjadi sangat sentimental dan hampir menangis, tapi ia lakilaki. Ia menguatkan diri dan dengan susahpayah memperlihatkan ketegaran.
Tata akhirnya bercerita dengan terbata, bahwa dirinya telah ditunangkan seminggu yang lalu dengan lakilaki pilihan ayahnya, dan ia tak bisa menolaknya. Ia berkata sepeninggal ibunya setahun lalu, tak ada yang dipatuhinya kecuali kehendak ayahnya. Dan ayahnya tak pernah memberikan batasan apapun untuk aktifitas yang dipilihnya, kecuali satu hal bahwa lakilaki yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pilihan ayahnya.
“selamat,,aku mendu’akan untuk kebahagiaanmu” ucap topan dengan tegas
“lalu bagaimana dengan kotak sejuta impian kita”
“seperti peziarah, keterikatan adalah pada kafilah selama perjalanan”
Tak ada lagi katakata, tata tidak memiliki alasan untuk tinggal, topan tak memiliki alasan untuk menahan, tak ada yang meneguhkan selain alasan. Kaca pada jendela tak lagi menyimpan air sisa hujan, di luar angin kencang telah mengusirnya menjauh. Yang tertinggal hanyalah guratgurat yang mengabur, dan kenangan yang samar.
#Yudha_Jatinegara 20/03/13
Topan sangat riang menyambut pagi hari, sebab sejawatnya Tata akan menemuinya siang ini untuk menikmati secangkir kopi, kopi hitam hangat dengan sedikit gula, aromanya harum merangsang memori sepanjang masa yang dikatanya sebagai sejarah.
Ia bergegas ke kamar mandi sembari bernyanyi
“aku bisa membuatmu jatuh cin...”
Ia tertawa sendiri, seolah mendapat hadiah dari langit
“beri sedikit waktu biar cin...”
Ia tertawa lagi, kali ini lebih riang
“datang karena telah terbiasa”.
Selepas melakukan hajatnya dikamar mandi ia nyalakan tivi, tak ditontonnya, kali ini tivi yang menonton dirinya mematut diri didepan cermin menyisiri rambutnya dan menyemprotkan minyak wangi pada sekujur tubuhnya, pada layar tivi yang asyik menontonnya terdengar riuh orang-orang membicarakan gosip dari aneka sudut pandang, ia bergeming, tak peduli.
Sebab ia meyakini hampir semua tayangan tivi adalah sampah, dan ia terpengaruh juga oleh sebuah quote yang dibacanya dalam sebuah buku,
“pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan?”.
Ia menatap lekatlekat wajahnya pada cermin dihadapannya. Lalu gumamnya
“Tak ada kebenaran yang mudah, ia harus diuji, bahkan dicaci kalau perlu. Jangan ragu, hadapi saja”
Lalu ia beralih ke tepi jendela. kamarnya berada di lantai kedua tepat diatas bangunan utama rumah yang merangkap kantor tempatnya bekerja sebagai aktivis sosial. Dari kaca jendela ia menatap keluar kamar, ia berharap ada pelangi yang bisa ia simak. Setidaknya ada keindahan yang bisa ia cerap dalam kegelisahannya menunggu. Tapi tak ada, hujan kali ini kurang berbaik hati padanya.
Tibatiba ia menjadi murung, ada percikan air sisa hujan dari genting, tanpa gegas menetes lalu perlahan meluruh pada kaca jendela dan mengalur membuat garis lalu hilang, ia memperhatikan dengan seksama, kejadian itu berulangulang beberapa kali, lalu ingatannya mengembara ke masa akhir ia bersama Tania. Gadis manis yang telah membersamainya selama lebih lima tahun, dan akhirnya harus berhenti karena mereka belum berhasil mendefinisikan kosakata sederhana yang menghalangi mereka untuk saling mengerti, dan kini setelah ia temukan definisi itu, semuanya sudah berakhir.
Seseorang bisa menjadi angkuh tanpa menjadi sombong, pun sebaliknya. Keangkuhan terkait dengan anggapan kita terhadap diri kita sendiri. Sedangkan kesombongan terkait dengan bagaimana kita menginginkan orang lain berpendapat tentang diri kita.
“pan tolong mengerti, ini untuk kebaikan kita”. Lirih tania, pada perjumpaan terakhir mereka
“ini soal prinsip tan, tak bisakah kita buat ini menjadi sederhana?”
“sederhana katamu, justru kamulah yang rumit. Kamu itu idealis tapi kolot. Apa kau pikir orang akan bersimpati dengan sikap kakumu itu? Tidak, kamu akan ditinggalkan”.
Topan merasa tertohok, ia mengakui dalam hati bahwa penilaian tania terhadapnya adalah benar, tapi ego kelelakiannya tidak menerima. Ia merasa benar, bahwa semua yang dia pikirkan tentang hidup, itu pula yang harus dia ucaplakukan tanpa kecuali, tak ada kompromi.
Tania juga benar tentang satu hal, bahwa hidup itu berjalan kedepan, dan cinta itu lain hal. Ia harus diuji waktu dan diperiksa keberadaannya terus menerus, karena kadang bersembunyi, sesekali nampak dan begitu tegas. Dan yang paling pahit, adalah ketika harus melepaskan ikatannya supaya ia bisa menampakkan diri dengan bebas.
“woiii, jangan melamun aja. Mana kopinya”, teriak tata yang nyelonong masuk kamar,
Topan jadi gelagapan karena tak menyadari pintu dibuka dan tata sudah ada dibelakangnya, ia buruburu memasang tampang riang, dan memang ia selalu bersemangat ketika berada didekat tata yang blakblakan dan sedikit tomboy itu
“yaelah ta, baca salam dulu kek. Maen nyelonong aja”
“habisnya, tata ketuk pintu ga ada sahutan, kirain lagi molor”
“baiklah, baiklah, aku bikinin kopi dulu ya”
“oke, tapi jangan pake lama”.
Topan beranjak meninggalkan ruangan menuju dapur yang berada di lantai bawah untuk membuat dua cangkir kopi. Tata memang perempuan luar biasa, setidaknya itulah kesan topan terhadapnya. Ia mengenal tata sekitar dua bulan lalu pada sebuah diskusi bersama para aktivis membahas peran media dalam mempengaruhi budaya massa.
Tata berpendapat saat ini media sudah hampir menyerupai Tuhan dalam sejarah. Betapa tidak, katanya dengan sengit. Seorang penjahat sekalipun dalam sekejap bisa menyulap dirinya menjadi seperti nabi yang harus diikuti dengan mengadukan kerapuhan dirinya dihadapan media, yang kemudian difirmankan kembali oleh media yang maha kuasa kepada khalayak dan seketika khalayak mengamininya
Topan membantahnya dengan sengit pula, bahwa hal itu tidak berlaku universal. Ada arus lain yang tidak meyakini hal itu, setidaknya meskipun kecil dan minoritas, masyarakat adat yang merawat tradisi luhur dari nenek moyangnya dengan teguh, mereka bisa dijadikan satu model yang tidak lena oleh arus informasi yang dibawa media.
Tata dan Topan, mereka berdikusi berdua, seolah disekeliling mereka hanya kosong dan hampa, keduanya kukuh mempertahankan argumentasi masingmasing, satu memakai kacamata tradisi sebagai basis analisisnya dan lainnya dengan persepektif dunia kontemporer dan masyarakat urban yang segala sesuatunya bersifat semu. Mereka baru berhenti setelah diingatkan oleh peserta diskusi yang lain bahwa pembicaraan mereka sudah jauh melenceng dari tema diskusi, dan supaya clear mereka harus membicarakan hal itu berdua saja. Karena itu sudah menyangkut hal yang subjektif, dan keduanya sepakat dengan hal itu.
Mereka berdua akhirnya menjadi sangat akrab, mereka bilang bahwa ada kotak sejuta mimpi yang harus mereka buka bersamasama karena hanya mereka berdualah yang mengerti, selain itu tak ada yang mereka percaya. Seperti kotak pandora yang misterius dan hanya bisa diakses dengan ketajaman rasa dan kedekatan intim denganNYA sang pemilik kotak tersebut.
Sesingkat kalimat penutup sebuah rapat, dua cangkir kopi hangat tersaji, asapnya meruap menebar aroma wangi, namun wanginya tercium bersicepat, seolah bergegas hendak menegas takdir yang tak bisa dipungkir. Bahwa peziarah selalu dibatasi oleh angan yang tak bisa ia tetapkan sebagai miliknya, sejumlah alasan tak pernah cukup untuk menahannya tetap tinggal menempati ruang, sebab ruang terlalu sempit untuk mereka tempati.
Tata sedang khidmat menekuri air sisa hujan yang begitu riang berloncatan, lalu perlahan menepi pada kaca jendela sebelum akhirnya luruh dan menghilang, topan memperhatikannya tanpa kata, kopi yang ia seduh dibiarkannya saling bercengkrama melepas panas sebelum akhirnya menjadi dingin dan tak beraroma lagi.
“ta,,apa yang sedang kau simak, tampaknya ada beban yang hendak kau singkap” topan berusa memecah kebekuan.
“eh itu,,anu,,hujannya udah berhenti” gagap tata
“bukan soal itu, ada yang sedang kau sembunyikan dari aku,,apakah itu?”
“owh,,gak ada, gak apa apa, mana kopinya”
“kopinya sudah dingin ta,,aku memperhatikanmu dari setengah jam yang lalu”
“hmmm,,”
Hening,
Bahasa tanpa kata lebih mampu memberi pemahaman, mata tata berkacakaca. Topan memandangnya dengan tegar. Ia sadar dan sudah menduga dari awal bahwa hal ini akan terjadi, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini, dan bahwa saat inilah waktunya. Ia menjadi sangat sentimental dan hampir menangis, tapi ia lakilaki. Ia menguatkan diri dan dengan susahpayah memperlihatkan ketegaran.
Tata akhirnya bercerita dengan terbata, bahwa dirinya telah ditunangkan seminggu yang lalu dengan lakilaki pilihan ayahnya, dan ia tak bisa menolaknya. Ia berkata sepeninggal ibunya setahun lalu, tak ada yang dipatuhinya kecuali kehendak ayahnya. Dan ayahnya tak pernah memberikan batasan apapun untuk aktifitas yang dipilihnya, kecuali satu hal bahwa lakilaki yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pilihan ayahnya.
“selamat,,aku mendu’akan untuk kebahagiaanmu” ucap topan dengan tegas
“lalu bagaimana dengan kotak sejuta impian kita”
“seperti peziarah, keterikatan adalah pada kafilah selama perjalanan”
Tak ada lagi katakata, tata tidak memiliki alasan untuk tinggal, topan tak memiliki alasan untuk menahan, tak ada yang meneguhkan selain alasan. Kaca pada jendela tak lagi menyimpan air sisa hujan, di luar angin kencang telah mengusirnya menjauh. Yang tertinggal hanyalah guratgurat yang mengabur, dan kenangan yang samar.
#Yudha_Jatinegara 20/03/13
No comments:
Post a Comment